RSS

Arsip Tag: Jesus

10 KARAKTER KRISTUS YANG HARUS KITA CONTOH

Oleh: Bill Britton

“Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan caci maki; ketika Ia menderita Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil”.
1 Petrus 2:23

Sementara banyak orang-orang yang mencari karunia-karunia, penglihatan- penglihatan, nubuatan-nubuatan, dan kuasa untuk melakukan perkara-perkara yang besar, Allah sedang mencari orang-orang yang bersedia dibentuk oleh Roh Kudus supaya menjadi orang-orang yang memiliki karakter seperti Allah, orang- orang yang tulus, dan penuh tanggung jawab.

Untuk menempatkan barang yang berharga di dalam bejana yang mudah pecah dan yang tak dapat dipercaya bisa merupakan pengalaman yang merugikan. Di dalam rumah Allah ada perabot-perabot yang mulia dan juga perabot-perabot yang tidak mulia seperti yang Paulus katakan di dalam 2 Timotius 2:20-21. Engkau boleh yakin bahwa ketika Roh Kudus ingin memberikan karunia-karunia-Nya kepada kita, Ia akan mencari perabot yang memiliki karakter dan stabilitas yang sedemikian rupa supaya ia bisa menunjukkan Dia pada dunia.

Ada kesanggupan-kesanggupan tertentu yang sedang dikerjakan ke dalam kehidupan putra-putra Allah supaya mereka bisa menyaksikan kehidupan Yesus. Kita akan melihat beberapa kesanggupan untuk menjadi seperti Yesus! Dia merupakan contoh dari karakter keputraan (sonship character) dan kehidupan yang berkenan. Inilah satu daftar kesanggupan yang kita perlukan kalau kita ingin masuk pada “sonship” yang benar…

KESANGGUPAN UNTUK DIPERLAKUKAN KASAR, DICACI MAKI, DAN DIKHIANATI TANPA ADA KEPAHITAN.

Memang benar bahwa banyak umat Allah yang menderita penghinaan dari dunia. Banyak istri dan anak menderita akan cacian dari suami-suami dan ayah- ayah yang belum bertobat. Kadangkala orang tualah yang menderita karena kelakuan anak-anaknya. Hal yang paling buruk bukanlah kelakuan atau tindakan yang kasar ini, melainkan kepahitan yang kadang-kadang masuk ke dalam hati sebagai akibatnya.

Lihat kehidupan Daud, yang mengabdikan diri sepenuhnya kepada Saul, dan mau mengambil resiko hidupnya untuk kepentingan Saul. Tetapi karena keirihatian Saul, Daud dituduh yang tidak-tidak, disalah mengerti, hidupnya terancam, dan reputasinya hancur. Daud sebenarnya punya alasan untuk menyimpan kepahitan terhadap Saul dan bangsa Israel yang berbalik melawan dirinya. Daud seolah-olah telah berbuat sesuatu yang salah dan sebagai akibatnya ia dihukum. Dia sama sekali tidak bersalah. Tetapi ia tidak mau kepahitan menguasai hidupnya. Ia telah diurapi oleh Allah dan urapan ini memelihara Daud tetap manis di dalam rohnya. Ketika kesempatan untuk membunuh Saul ada, yang sebenarnya bisa mengakhiri perlakuan-perlakuan yang tidak wajar ini, ia tidak mau menjamah orang yang pernah diurapi Allah. Ia tahu panggilan hidupnya di dalam Allah dan ia memiliki keyakinan bahwa Allah dapat dan akan menggenapi firman-Nya. Maka ia menyerahkan Saul ke dalam tangan Allah.

Tidak cukup untuk dikatakan bagaimana Yesus dicaci maki dan dikhianati. “Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil” (1 Petrus 2:23).

Dia yang adalah pencipta dan Juruselamat umat manusia, yang penuh kasih dan perhatian kepada semua manusia, dicaci maki dan dikhianati dan diperlakukan seolah-olah Dia seorang penjahat kelas rendah yang melakukan kejahatan besar. Sekalipun demikian Ia mengasihi dan memberkati musuh-musuh-Nya sampai pada akhir hidup-Nya. Stefanus mengikuti jejak-Nya di dalam Kisah 7:60. Inilah “sonship” yang benar.

KESANGGUPAN UNTUK MENJADI MISKIN TANPA ADA KELUHAN.

Miskin bukanlah dosa, juga bukan sesuatu yang luar biasa. Bukan juga sebagai bukti kurangnya iman seperti yang beberapa orang katakan. Tentu saja ini bisa menjadi tanda akan kemalasan atau karena tidak bisa mengatur keuangan. Tetapi inipun tidak terlalu benar. Kadang-kadang orang-orang yang penuh iman menderita kemiskinan sekalipun tidak ada kesalahan. Rahasianya adalah mengetahui bagaimana hidup dalam kemiskinan tetapi masih berjalan di dalam kemenangan. Ini merupakan satu proses belajar. Di dalam Filipi 4:11-12 Paulus mengatakan: “Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah BELAJAR mencukupkan diri dalam segala keadaan. Aku tahu apa itu kekurangan dan apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan, maupun dalam hal kekurangan.” Lihat rasul yang memiliki iman yang besar ini, iapun menderita kekurangan! Sama sekali tidak ada hubungannya dengan kualitas imannya.

Kesanggupan untuk menjadi miskin dan masih memiliki kemenangan ada rahasianya yaitu tidak mengeluh. Pujilah Allah di dalam segala keadaan, dan jadilah puas dengan apa yang Ia sediakan. Ini tidak berarti engkau tidak dapat bekerja dengan lebih keras lagi untuk merubah kondisi, hanya janganlah mengeluh atau menuduh Allah tidak memperhatikanmu.

Kesanggupan untuk mengalami kekurangan tanpa ada ketakutan itu berarti percaya kepada kasih-Nya dan pemeliharaan-Nya atas engkau, dan keyakinanmu akan kesanggupan-Nya untuk memenuhi kebutuhanmu. Banyak kesaksian yang diberikan oleh keluarga-keluarga yang duduk di meja makan tapi tidak ada makanan. Tetapi mereka mengatakan itu anugerah, dan ternyata Allah memenuhi kebutuhan mereka. Ada satu cerita tentang seorang anak Tuhan yang selalu memberikan pujian kepada Allah untuk segala pemenuhan kebutuhannya. Pada suatu malam, seorang badut (pelawak) duniawi lewat di depan rumahnya dan mendengar doa. Ia mengintip dari jendela dan melihat anak Tuhan ini sedang berlutut dekat sebuah meja yang kosong, sedang berdoa supaya Allah mengirimkan makanan kepadanya. Ia lari ke sebuah toko, membeli sekeranjang bahan makanan dan meletakkannya di serambi rumahnya. Ia lalu mengetuk pintu dan lari sembunyi. Ellie, anak Tuhan ini, membuka pintu. Melihat bahan makanan tersebut, ia mengangkat kedua tangannya dan mulai memuji Tuhan untuk pemenuhan kebutuhannya. Si badut ini lalu melompat keluar dari belakang pohon dan mulai mentertawakan dia. “Bukan Allah yang meletakkan makanan di situ Ellie, tetapi aku! Jadi engkau lihat, yang mencukupi kebutuhanmu itu bukan Allah.” Ellie memandang keranjang makanan itu lalu menjawab, “Aku memuji Allah untuk makanan yang dibawa ke sini, tidak peduli apakah Dia memakai iblis sebagai penolong,” Ia tahu Allah-lah yang memenuhi kebutuhannya, dan ia tidak memiliki ketakutan.

KESANGGUPAN UNTUK MENJADI KAYA TANPA ADA KETAMAKAN.

Allah senang melihat kebutuhan anak-anakNya terpenuhi. Ia senang umat-Nya kecukupan supaya mereka bisa memberkati yang lain. Ada supply (persediaan) yang berlimpah-limpah khusus bagi mereka yang sudah belajar bagaimana caranya untuk membuka jendela-jendela surga, dan menuai tuaian yang melimpah. Allah sudah menunjukkan kepada kita bagaimana caranya untuk melakukan hal ini karena Ia ingin mencurahkan ke atas kita berkat-berkatNya.

Masalahnya dengan orang-orang percaya bahwa mereka bisa menjadi betul- betul rohani apabila mereka dalam situasi miskin karena mereka harus berdoa setiap hari dengan sungguh-sungguh supaya kebutuhannya tercukupi. Tetapi apabila mulai hidup berkelimpahan, mereka nampaknya mulai melupakan akan kebutuhan mereka terhadap Allah, dan mulai sibuk dengan hal-hal yang mulai mereka timbun.

Bertahun-tahun yang lalu saya mempunyai seorang pekerja di gereja saya yang datang kepada saya dengan membawa satu masalah.

Ia berkata, “Pak Bill, ketika saya baru diselamatkan gaji saya 50 dollar satu minggu dan saya senang sekali memberikan 5 dollar sebagai perpuluhan setiap minggu. Lalu saya mulai naik pangkat dan sekarang gaji saya 150 dollar setiap minggunya; namun saya merasa sayang memberikan 15 dollar sebagai perpuluhan. Ini jumlah uang yang cukup banyak.” Saya sungguh-sungguh tidak mengerti bagaimana mungkin ia merasa sulit untuk hidup dengan 135 dollar setiap minggu, padahal ia bisa hidup dengan 45 dollar sewaktu Allah belum memberkati pekerjaannya. Lalu saya mulai bisa melihat seperti dia melihat. Pekerjaan dan gajinya sudah dalam kondisi keberkatan, tetapi pikirannya masih dalam zaman kemiskinan. Kelebihan uangnya (extra money) hanya merangsang ketamakan dan keinginannya hal-hal jasmaniah yang dulu ia tidak bisa membelinya. Ia tidak bisa menggunakan berkat Allah.

Allah mampu membuat Abraham menjadi seorang yang kaya karena Ia tahu Abraham bisa menggunakan kekayaannya dengan bijaksana. Raja Ahab, sebaliknya. Ia sudah diberkati dengan berlimpah-limpah, tetapi ia tidak puas. Ia membunuh Nabot dan merampas kebun anggurnya, karena ketamakan hatinya yang jahat. Sebagai akibatnya, penghukuman Allah datang atasnya dan istrinya yang juga jahat.

Ada beberapa orang saat ini yang memiliki urapan khusus untuk menerima dan memberi. Berkat yang hanya sepihak saja (hanya menerima tanpa memberi) adalah sangat berbahaya. Orang-orang ini tahu bahwa Allah memberkati mereka supaya mereka bisa memberkati yang lain. Mereka merupakan kekuatan yang besar bagi kerajaan Allah, dan merupakan penolong yang kuat di dalam mendukung gereja lokal atau mengirim berita cetakan. Allah mengirim kita urapan yang lebih ini.

KESANGGUPAN UNTUK MENGASIHI TANPA MENUNTUT BALASAN.

Ketika Yesus mengatakan kepada kita untuk mengasihi musuh-musuh kita, Ia meminta kepada kita untuk melakukan sesuatu yang sulit. Ia mengatakan bahwa orang-orang dunia, bahkan mereka sekalipun penuh dengan kebencian, bisa mengasihi orang-orang yang mengasihi mereka. Setiap orang bisa mengasihi orang lain atau sesuatu hal, bahkan anjing yang tua kotor sekalipun. Karena tidak peduli betapapun jeleknya orang itu, anjing yang tua kotor ini akan mengasihi dia.

Sebenarnya kalau kita mau mencoba dengan sungguh-sungguh, tidaklah terlalu sukar untuk memberi satu pemberian kepada orang yang tidak dan tidak akan membalas kasih kita, karena memberi sebenarnya bukan suatu pengorbanan bagi kita. Jika sesuatu yang dikorbankan itu bisa kita dapatkan kembali maka kita mau memberikan itu karena kita ingin menjadi pemberi. Tetapi jika sesuatu yang diberikan itu memiliki nilai sentimentil, atau suatu pengorbanan yang menyakitkan, maka kita ingin memberikan hal itu kepada orang yang sedikitnya mau menghargai pemberian itu dan mau mengasihi untuk apa yang telah kita lakukan. Tetapi Yesus menunjukkan kepada kita bahwa Ia bisa memberikan hidup-Nya untuk mereka yang membenci dan menghina-Nya, Dialah Raja pemberi!

Apakah kasih saudara terhadap orang lain mulai dingin tatkala saudara tahu bahwa mereka suka “ngrasani” saudara? Apakah saudara tidak lagi mau memperhatikan orang lain karena mereka tidak menghargai pemberian saudara? Apakah saudara mencoba menghindari seseorang yang telah menolak memberikan pertolongan waktu saudara membutuhkannya? Jika benar demikian, mintalah kepada Allah supaya Ia memberikan kasih Yesus kepada saudara. Harga dari kasih semacam itu akan terlalu besar sekali bagi manusia jasmani, tetapi Kristus yang ada di dalam akan bersukacita. Sukacita dan kasih ini akan mengalir keluar dari bejanamu, dan banyak orang akan merasa diberkati dan dibaharui dengan kenyataan Kristus yang hidup.

KESANGGUPAN UNTUK TIDAK DIKENAL TANPA ADA RASA KASIHAN TERHADAP DIRI SENDIRI.

Sebuah traktat yang ditulis beberapa tahun yang lalu dengan judul “MATI TERHADAP DIRI SENDIRI” pernah menulis begini: “Apabila engkau dilupakan, tidak dikenal, atau tidak dianggap sama sekali, dan engkau tidak lupa dan sakit hati terhadap penghinaan dan kelalaian ini, tetapi sebaliknya hatimu gembira, merasa layak untuk menderita bersama Kristus, ITULAH MATI TERHADAP DIRI SENDIRI”.

Kasihan terhadap diri sendiri adalah sifat manusia. Kristus yang ada di dalam kita tidak pernah merasa kasihan terhadap diri sendiri, karena Ia tahu bahwa kita adalah raja-raja dan imam-imam, dan kita dipersiapkan untuk menerima seluruh kepenuhan Allah. Penderitaan kita saat ini tidak berarti jika dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan di dalam kita.

Bahkan nabi-nabi besarpun pernah “tertangkap” oleh musuh yang kecil tapi tidak suka berterus terang ini. Elia merupakan salah satu nabi yang terbesar. Tetapi setelah ia menang besar di atas gunung Karmel, ia melihat Izebel mengejar- ngejar untuk menghancurkannya, dan ia mulai merasa kasihan terhadap diri sendiri. Allah tetap penuh kemurahan dan kasih terhadap nabi-Nya, tetapi Ia membiarkan Elia tahu dengan pasti bahwa keluhan-keluhannya sungguh tidak beralasan dan hanya merupakan kelemahan manusiawinya sendiri.

Apakah ada saat-saat ketika engkau melakukan yang terbaik bagi Allah, bagi gereja, bagi persekutuan, atau bagi orang lain, dan tidak ada seorangpun yang memperhatikan atau mempedulikan? Jauh di dalam hati saudara, saudara tahu bahwa saudara harus melakukan itu untuk Allah dan tidak mencari penghargaan. Tetapi masih saja saudara merasa bahwa orang lain seharusnya tahu betapa payahnya saudara bekerja, betapa saudara penuh pengabdian, atau betapa saudara penuh perhatian. Bahkan seringkali Allah sendiri rasanya tidak mengenal saudara. Lalu sahabat yang kecil ini mulai mengetuk pintu hati sanubari saudara dan meminta belas kasihan. Betapa mudah untuk menyerah pada saat-saat seperti itu.

Kasihan terhadap diri sendiri adalah penghancur kekuatan dan tenaga. Ini bukanlah satu-satunya alasan mengapa seseorang merasa capai terus sepanjang hari, atau tidak berdaya sama sekali. Tetapi setiap orang yang tidak mengatasinya, tidak bisa melakukan pekerjaan sehari-harinya, ia harus menyelidiki hatinya untuk melihat apakah ada “self pity” (kasihan terhadap diri sendiri) yang mulai menggerogoti. Sekarang roh ini memiliki seorang pengacara yang cakap sekali, namanya “self defence” (pembelaan diri) yang sedang mengajukan kasusnya. Jadi tidak gampang bagi seseorang yang memiliki “self defence” ini untuk mengakui bahwa ia kasihan terhadap diri sendiri. Tetapi jujur terhadap diri saudara sendiri adalah satu-satunya jalan untuk mengatasinya.

Orang-orang kudus yang “bonafide” di dalam Alkitab pernah masuk ke dalam perangkap “self pity” ini adalah Daud, Abraham, Musa dan lain-lainnya. Tetapi lihatlah Yesus. Ia tidak bisa dibandingkan dengan yang lain. Ia telah menetapkan satu pola bagi kita. Kita akan diubah menjadi sama seperti Dia. Kemenangan kita hanya terletak pada “menjadi seperti Yesus dalam segala hal.”

KESANGGUPAN UNTUK PUAS HIDUP DI DALAM SUPPLY (PERSEDIAAN) YANG ALLAH BERIKAN.

Ini merupakan proses belajar, khususnya di dalam dunia ini yang penuh dengan ketamakan dimana kita sekarang ini hidup. Orang-orang muda, yang belum lahir waktu orang tua mereka hidup di dalam situasi yang mendekati miskin dimana tidak ada barang-barang mewah, sekarang melihat orang tua mereka memiliki rumah yang bagus, mobilnya dua, perabot-perabot rumahnya indah, dan sebagainya. Lalu mereka memutuskan bahwa mereka juga harus memiliki barang- barang seperti ini untuk memulai hidup pernikahannya. Oleh sebab itu mereka mendapat pinjaman uang untuk membayar uang muka sebuah rumah dengan harga yang sebenarnya terlalu tinggi bagi mereka, mendapat pinjaman lain lagi untuk membeli mobil, atau membeli rumah komplit dengan perabot-perabotnya, dan menamakannya “iman”. Ketika angin kemalangan menyerbu dan segala sesuatunya runtuh dalam kebangkrutan, mereka menuduh Allah meninggalkan mereka, dan iman mereka hancur. Disamping mereka kehilangan kehidupan kerohanian dan harta benda mereka, mereka juga meninggalkan suatu kesaksian yang buruk bagi berita (message) yang benar tentang iman dan kehidupan kerajaan (kingdom life).

Banyak pelayanan yang menjadi sia-sia karena kegagalan mereka untuk hidup di dalam supply dari Allah. Pelayanan radio, televisi dan cetakan akan diberkati Allah dengan suatu support yang terus mengalir. Beberapa orang lalu mulai memikirkan dan menghitung-hitung pertumbuhan yang diharapkan pada masa yang akan datang, plus pertumbuhan karena pelayanan mereka yang semakin meluas pada masa yang akan datang, lalu melipatgandakan semuanya dengan bertindak atas “iman”. Mereka lalu jatuh dalam hutang untuk membayar peralatan yang mahal atau bangunan yang besar dan luas. Tatkala akibat-akibat kesukaran uang mulai terasa, mereka lalu membuat permohonan-permohonan kepada supporter-supporter mereka dengan cucuran air mata. Kehidupan yang pernah mereka miliki dan yang dibagikan kepada orang lain, sekarang diganti dengan rencana-rencana bagaimana caranya mendapatkan uang untuk mencegah kehancuran. Saya tahu ada banyak orang yang meluncurkan diri dengan iman untuk melakukan perkara-perkara yang besar karena mereka sudah mendengar suara Allah terlebih dahulu untuk melakukan hal itu. Mereka inilah yang tidak akan gagal. Apabila saudara melihat suatu pelayanan yang gagal karena kekurangan uang, saudara tahu dia belum mendengar suara dari Allah dan tidak puas untuk hidup di dalam supply yang Allah berikan.

Saya tahu supply dari Allah tidak terbatas, Ia bisa melakukan apa saja, dan Ia ingin supaya kita memiliki yang terbaik. Tetapi tangan-Nya yang menuntun itu diperlukan di dalam semua keputusan kita. Sejak bertahun-tahun yang lalu saya mengambil kesimpulan bahwa pekerjaan Allah yang dikerjakan dengan cara Allah tidak akan pernah kekurangan supply-Nya. Dan saya memutuskan bahwa jika Allah setuju dengan apa yang sedang saya lakukan, Ia akan mengirimkan apa yang saya butuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan itu. Jadi saya tahu bahwa jika Ia sudah selesai dengan saya didalam penerbitan firman Allah yang sudah Ia berikan, maka Ia akan memotong uang kertas dan ongkos pengirimannya. Dan jika Ia tidak berada didalam apa yang sedang saya kerjakan, maka saya pasti tidak mau melakukan hal itu. Inilah yang menjadi prinsip saya selama lebih dari 23 tahun di dalam menerbitkan berita-berita akhir zaman, dan berhasil. Saya tahu Ia beserta dengan saya karena Ia mencukupi kebutuhan saya dengan cara yang ajaib sekali. Ada banyak kasus dari kejadian semacam ini di dalam pelayanan kami, tetapi saya ingin membagikan kepada saudara hanya satu contoh saja …

Suatu ketika saya benar-benar membutuhkan satu peralatan, tetapi saya tidak mau terlibat dalam hutang untuk mendapatkan peralatan ini. Jika Allah mengijinkan saya untuk memilikinya, Ia akan menyediakannya. Suatu hari ada selembar cek datang dengan jumlah uang yang aneh. Waktu saya memperhatikan cek ini, Allah berkata, “Ini untuk alat yang engkau butuhkan.” Kami menelpon berputar-putar dan akhirnya mendapatkan persis seperti yang saya inginkan. Ketika saya melihatnya, harganya sama dengan jumlah uang yang tertulis pada cek itu, sampai ke sen-sennya. Ini menjadi suatu tanda bagi saya bahwa saya telah bertindak di dalam Roh, dan suatu upah karena saya mau menunggu sampai pada waktunya.

KESANGGUPAN UNTUK BERJALAN DI DALAM KEKUDUSAN DI TENGAH-TENGAH DUNIA YANG GELAP DAN RUSAK INI DENGAN PENCOBAAN-PENCOBAAN DAN TEKANAN-TEKANANNYA.

Banyak orang merenung-renungkan betapa indahnya kalau mereka dipindahkan ke suatu tempat dimana tidak ada lagi dosa dan iblis, dan betapa mudahnya untuk hidup kudus di tempat semacam itu. Ya, memang akan lebih mudah tetapi tidak seagung kesaksian mereka yang hidup di dalam kebenaran, damai sejahtera dan sukacita di dalam Roh Kudus di atas bumi yang jahat ini.

Allah akan memiliki suatu umat yang akan memberi kemuliaan bagi nama-Nya dengan menyatakan kemuliaan-Nya dan bersinar dengan terangnya di dalam dunia yang gelap ini. Hari sudah gelap tatkala Yesus lahir di bumi ini. Penyembah berhala Roma memerintah dunia dengan kekuasaan dan kejahatannya. Yunani mempengaruhi setiap orang dengan filsafatnya, penyembahan berhala, dan dengan perbuatan percabulannya yang jahat. Bahkan bangsa Israel, satu-satunya bangsa yang memiliki Allah yang benar dan hidup, berada dalam sakratul maut dan kebobrokan agamanya. Imam-imam, ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa umat Allah masuk ke dalam perbudakan keagamaan yang mengerikan. Inilah waktu dimana orang-orang berjalan di dalam kemunafikan dengan pikiran- pikirannya yang kedagingan.

Sekalipun demikian ketika Yesus tiba, Ia bersinar dengan ketulusan, kemurnian dan kekudusan-Nya yang membutakan mata manusia. Ia berjalan di tengah- tengah perempuan sundal, pencuri-pencuri dan orang banyak, tetapi tak seorangpun bisa membuat-Nya berdosa. Ia mengampuni orang-orang berdosa, memberkati orang-orang kafir, dan mencerca kepalsuan-kepalsuan agama di dalam Bait Allah. Ia menunjukkan kepada kita bahwa hal itu bisa dilakukan. Dia adalah contoh Terang yang sempurna di dalam dunia yang gelap.

Banyak orang mengeluh tentang tetangga-tetangga mereka, orang-orang kafir di sekitar mereka dan menjerit-jerit betapa mereka akan menjadi orang-orang Kristen yang lebih baik jika keadaan sekeliling mereka berbeda. Sementara yang lain, pada keadaan yang sama mulai mengadakan kebaktian Sekolah Minggu atau bible study, dan berakhir dengan memenangkan banyak jiwa bagi Tuhan. Ada satu cerita tentang dua orang penjual sepatu yang dikirim ke daerah pegunungan untuk menjual sepatu. Beberapa minggu kemudian kantor pusatnya menerima telegram dari dua orang ini. Yang satu berkata: “Mohon saya dipindahkan saja dari sini. Tidak ada kesempatan sama sekali untuk menjual sepatu di sini, karena tidak seorangpun yang memakai sepatu. Mereka hampir tidak tahu apakah sepatu itu, dan tidak banyak orang yang memakai sepatu sehingga sulit bagi seorang salesman sepatu untuk hidup disini.” Tetapi telegram yang satunya mengatakan: “Mohon dikirim lebih banyak sepatu, saya kehabisan barang. Tidak seorangpun disini yang memakai sepatu, maka ini satu kesempatan yang indah sekali bagi salesman sepatu”. Jadi bukanlah keadaan, tetapi cara mereka menghadapi keadaan itu sendiri, yang menentukan berhasil atau gagal.

Oleh sebab itu, semakin gelap keadaan sekitar saudara, semakin terang saudara akan bercahaya. Semakin jahat, semakin besar kesempatan yang saudara miliki untuk menjadi orang kudus. Tetapi saudara tidak boleh menyerah kepada dunia sekitar saudara, kompromi dengan jalan-jalannya. Engkau harus belajar untuk berjalan di dalam kekudusan di tengah-tengah dunia yang bobrok ini.

KESANGGUPAN UNTUK MELIHAT KESALAHAN-KESALAHAN ORANG LAIN TANPA ADA KRITIKAN.

Orang yang bisa melihat kebutuhan-kebutuhan orang tanpa ada penghakiman dan kritikan atas mereka adalah memiliki potensi yang besar untuk melayani di bidang kelepasan. Jika saudara memiliki kasih yang sedemikian rupa sehingga saudara ingin melihat mereka bisa mengatasi kelemahan-kelemahan didalam hidup mereka, dan masih tidak mengkritik mereka kalau mereka gag
al, maka engkau akan menjadi orang yang mereka panggil ketika mereka membutuhkan kelepasan. Lihat bagaimana Yesus dengan lembut membela dan berurusan dengan perempuan yang tertangkap basah ketika ia berzinah. Ia tidak menghukumnya. Ia sudah terhukum di dalam hatinya sendiri pada waktu ia duduk di depan kemurnian dan kekudusan-Nya. Yesus tidak mengampuni perzinahannya ataupun setuju dengan kehidupan masa lalunya, tetapi Ia mengampuni dia dan membawanya melangkah pada langkah kelepasan. Tidak seorangpun menginginkan adanya dosa di dalam gereja. Tetapi kita bisa lepas dari semua itu dengan mengeluarkan dosanya, bukan orangnya.

Kesanggupan yang lain yaitu bisa melihat kekurangan dirimu sendiri tanpa ada keputus-asaan ataupun dalih-dalih. Tak seorangpun dari kita yang sempurna, tetapi janganlah menyerah terhadap dirimu sendiri, Allah belum selesai berurusan denganmu. Dan jangan menutupi kesalahan-kesalahanmu dengan mengatakan, “Saya tidak lebih jelek dari orang lain.” Mungkin ini betul, tetapi itu tidak akan membawa kelepasan, dan juga tidak akan membuat saudara sadar akan kebutuhan saudara untuk bisa lebih maju lagi. Tak ada seorangpun yang tahu pikiran-pikiranmu dan perasaan-perasaanmu kecuali saudara sendiri. Kadang- kadang saudara berpikir bahwa saudara lebih jelek dari orang lain karena saudara tidak tahu akan persoalan-persoalan mereka yang dalam. Mungkin ini benar dan mungkin juga tidak, tetapi permasalahannya bukan di situ. Persoalannya adalah bahwa kita semua harus tahu bahwa kita adalah anak-anak anugerah dan anak kesayangan-Nya, dan Ia akan menyempurnakan kita pada waktunya. Jangan putus asa terhadap diri saudara sendiri.

KESANGGUPAN UNTUK TETAP RENDAH HATI DI TENGAH SORAK TEPUK TANGAN ORANG BANYAK.

Tidak banyak dari kita yang mendapat sambutan meriah dari orang banyak untuk membuat kita sombong dan ditinggikan. Mungkin saudara hanya berkata, “Saudara Joe, sungguh bagus sekali khotbah Anda malam ini,” atau “Wah, Anda menyanyi dengan bagus sekali, saudari Sue, hati saya betul-betul tersentuh”. Dan lalu mereka menjadi bangga dan sombong. Tetapi kami harap tidak demikian.

Kadang-kadang Allah melakukan mujizat-mujizat yang bisa dilihat dengan mata seperti yang Ia lakukan bagi Paulus dan Barnabas di dalam Kisah 14. Orang- orang lalu mulai meninggikan pelayanan ini sampai pada level yang membahayakan, seperti yang mereka lakukan terhadap Paulus dan Barnabas. Sangat sulit bagi manusia jasmaniah untuk tetap rendah hati di dalam situasi semacam ini. Dan tidak seperti Paulus dan Barnabas yang berlari-lari kepada khalayak ramai untuk menjelaskan bahwa Yesus-lah yang mengerjakan mujizat- mujizat itu, bukan diri mereka, beberapa hamba Tuhan justru mulai membusungkan dada karena memiliki nama yang baik sebagai pelayan kelepasan dan kesembuhan. Petrus pada saat di rumah Kornelius di dalam Kisah 10 adalah contoh lain dari kerendah-hatian. Ia tidak mau membiarkan mereka memuja dirinya atau menerima kemuliaan bagi dirinya sendiri.

Pada sekitar tahun 1950 saya pernah melayani di Ohio. Pada saat itu Firman Allah mengalir dengan penuh urapan dan wahyu. Saya sendiri bahkan merasa diberkati dengan apa yang keluar dari mulut saya. Suatu malam setelah saya selesai menyampaikan Firman Allah di dalam urapan yang dahsyat, puji-pujian mulai mengalir. “Oh, saudara Bill, firman yang Anda sampaikan benar-benar bagus dan merupakan berita terbaik yang pernah saya dengar,” seseorang berkata kepada saya. Saya pulang merasa 9 kaki lebih tinggi dari sebelumnya dan siap bertempur melawan Goliat. Malam berikutnya saya kembali ke atas mimbar, siap untuk memberkati hadirin dengan satu berita yang besar. Tapi ternyata saya gagal total. Sama sekali tidak ada urapan dan saya tidak dapat membuat firman yang saya sampaikan itu bisa dimengerti oleh hadirin. Sungguh-sungguh suatu malam yang mengerikan. Pada akhir firman itu, saya pukul altarnya dan menangis, “Tuhan, apakah artinya bahwa Engkau mengasihi aku? Apa hubungannya dengan kegagalanku malam ini?”. ” Anakku, kemarin Aku memberkati engkau dan ternyata engkau menjadi sombong, seolah-olah engkau telah berbuat satu perkara yang besar dengan kekuatanmu sendiri. Roh ini akan menghancurkanmu dan Aku terlalu mengasihi engkau untuk melihat engkau hancur. Biarlah kejadian malam ini engkau ingat terus.”

Percayalah saya, malam yang tidak enak itu teringat terus. Setiap orang yang datang pada malam sebelumnya, datang mendekati saya untuk menyalami saya sebentar lalu pergi. Saya telah belajar satu pelajaran yang cukup sulit. Beberapa orang nampaknya tidak mau belajar. Saya bisa menyebutkan nama-nama hamba Tuhan yang cukup terkenal yang seharusnya sudah harus di”out” dari peredaran karena dosa mereka …. sombong. Ada banyak orang yang memiliki pelayanan mujizat yang dahsyat yang menerima pujian dari orang banyak, tetapi mereka tidak menerimanya untuk diri mereka sendiri. Mereka kembalikan semua pujian itu kepada Tuhan Yesus, karena mereka ingat bahwa mereka bukanlah apa-apa tanpa Dia. Jadi janganlah berprasangka yang tidak-tidak kepada seorang pelayan Tuhan jika saudara mendengar orang-orang memuji dia, dan dia tidak memarahi mereka. Ia hanya ingin berbuat baik. Ia mungkin orang yang betul-betul rendah hati di dalam hatinya. Hanya Allah-lah yang bisa melihat keadaan hati pelayan-Nya dan bukanlah tempat kita untuk menghakimi pelayan-Nya. Allah-lah satu-satunya yang mengetahui dengan pasti apa yang berada di dalam hati kita, dan Dialah yang akan menghakimi pelayan-pelayanNya. Dan kepada pelayan-pelayanNya saya ingin berkata …. belajarlah untuk tetap rendah hati di tengah-tengah sorak tepuk tangan orang banyak.

KESANGGUPAN UNTUK BISA MENGHADAPI PENGANIAYAAN DAN TUDUHAN PALSU TANPA ADA “SELF DEFENCE” (PEMBELAAN DIRI) ATAUPUN MEMBENCI MUSUH-MUSUHMU.

Kita semua akan, pada suatu saat, menerima penganiayaan, atau tuduhan palsu. Di dalam Matius 5, Yesus mengatakan bahwa saat kejadian ini haruslah menjadi saat yang menggembirakan. Tapi jika saudara mengijinkan peristiwa ini menjadi pintu dimana iblis bisa masuk dengan satu timbunan kebencian atau sakit hati, maka saudara lebih baik berdoa supaya bisa mengatasi hal ini. Karena kebencian bisa menghancurkan jiwa saudara, seperti juga membawa panyakit bagi tubuh saudara. Dengan kata lain, jika saudara mengasihi diri saudara sendiri dan keselamatan saudara sendiri, maka belajarlah untuk mengasihi yang lain, bahkan musuh-musuh saudara sekalipun.

Daud tidak membenci Saul. Ia bukanlah seorang pengecut, dan ia tidak takut pada Saul. Ia pergi ke perkemahan Saul dan mengambil tombak sang raja. Ia menghormati Saul karena Allah pernah mengurapi dia sebagai raja. Dan ia ikut berdukacita karena ia tahu bahwa Saul akhirnya akan dihukum. Tetapi ia tidak membencinya. Ia tidak mau membiarkan kebencian meracuni jalannya. Ia tidak akan pernah menjadi raja yang baik di hadapan manusia dan Allah, jika ia sudah membiarkan roh benci menguasai hatinya.

Tidak ada seorangpun seperti Yesus untuk menunjukkan kepada kita bagaimana mengasihi orang-orang yang menganiaya kita dan berlaku kasar terhadap kita.

Jika saudara menginginkan kuasa kasih yang murni, maka mendekatlah kepada Yesus. Biarlah Dia menguasai hati saudara dan memenuhi hidup saudara dengan hadirat-Nya. Isi pokok dan intisari dari berita ini adalah …. Jika saudara menginginkan karakter akan seorang putra Allah yang benar, maka carilah Allah untuk memiliki KESANGGUPAN UNTUK MENJADI SEPERTI TUHAN YESUS! Itulah “sonship” yang benar!

sumber : http://www.corneliuswing.com/various-contents/49-karakter-kristus-10-kesanggupan-nya.html

 
6 Komentar

Ditulis oleh pada 31 Agustus 2009 in RENUNGAN, SEBAIKNYA ANDA TAU!

 

Tag: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

BENARKAH ADA KIAMAT ???

Melihat kepada segala ketegangan internasional, konflik-konflik, perang dingin dan perang hangat, pertentangan di antara bangsa-bangsa, tindakan-tindakan yang berani membinasakan jiwa manusia karena perbedaan ideologi, agama, pengacauan- pengacauan dan seribu satu macam kejahatan yang kini terjadi, banyak orang mengambil kesimpulan bahwa, peradaban modern dalam dunia dewasa ini sedang bergerak dengan cepat dan pasti dan tak dapat dihalang-halangi menuju nasibnya.
Banyak orang dengan rasa takut melihat kepada tindakan-tindakan di luar hukum yang semakin memuncak, ketegangan-ketegangan rasial, kenaikan harga bahan pokok sehari-hari, sebagai gejala bahwa dunia pasti akan sampai kepada suatu malapetaka besar.
Kita dapat membenarkan bahwa dunia kita sedang diantar menuju satu jurusan tertentu! Nasib apakah yang menanti dunia ini? Jurusan manakah sedang ditujunya? Orang bertanya, apakah benar ada hari kiamat? Jika benar ada, bilakah dan bagaimanakah kiamat itu?
Apakah dan mengapakah hari kiamat itu?
Ya, kita dapat menyaksikan bahwa dunia dengan keruntuhan-keruntuhannya yang meluas itu menyatakan bahwa sejarah memang ada akhirnya, dan di masa lampau, berakhirnya sejarah bagi bangsa-bangsa keturunan dan manusia sudah terjadi.
Lihat saja, piramide-piramide peninggalan Mesir kuno, dan hasil-hasil penggalian kota-kota Niniwe, Babel, Forum Romanium di Roma, dan banyak lagi, semuanya menyatakan tentang kekayaan dan kemuliaan yang pernah ada dalam sejarah, akhirnya telah menemui ajal dan sejarahnya telah selesai. Tidak peduli betapa besar dan berkuasanya satu bangsa di zamannya sendiri, maka ia akan sampai kepada saat kebinasaannya.
Dua ribu tahun yang lalu Kristus telah mengumumkan mengenai rencana Allah yang besar untuk menyelamatkan manusia yang percaya kepada Yesus Kristus dan menganugerahkan kepada mereka kehidupan yang tenang, damai dan abadi!

Yesus berkata: “Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percaya juga kepada-Ku. Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada.” Yohanes 14:1-3.

1. MENGAPA YESUS KRISTUS HARUS DATANG KEMBALI?

Apabila kita mempelajari Kitab Suci, mengenai peristiwa yang terjadi pada akhir zaman, maka kita akan dapat mengerti mengapa Yesus Kristus harus datang kembali.
Yesus harus datang kembali karena manusia kini sedang merusakkan bumi dengan penemuan berbagai-bagai jenis bom-bom dan alat-alat peperangan. Allah tidak akan membenarkan tindakan manusia ini berlangsung terus, melainkan Ia akan menghukum mereka.
Jika Kristus tidak segera datang, maka keadaan dunia akan terus dirusakkan oleh manusia, dengan berbagai alat senjata modern! Ledakan bom-bom nuklir, pengotoran-pengotoran udara, dan tindakan-tindakan penghancuran lainnya sedang terjadi di segenap bagian bumi ini.

“Dan semua bangsa telah marah, tetapi amarah-Mu telah datang dan saat bagi orang-orang mati untuk dihakimi dan untuk memberi upah kepada hamba-hamba-Mu, nabi-nabi, dan orang-orang kudus dan kepada mereka yang takut akan nama-Mu, kepada orang-orang kecil dan orang-orang besar dan untuk membinasakan barangsiapa yang membinasakan bumi.” Wahyu 11:18.

“Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar. Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama, tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik, suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu daripada menuruti Allah.” 2 Timotius 2:1-5.

Inilah gejala-gejala akhir zaman, bahwa manusia dengan ilmu pengetahuan yang mereka miliki, mempunyai sikap menolak kenyataan beragama kepada Allah yang benar. Kejahatan manusia semakin bertambah-tambah.
Yesus harus datang kembali, karena umat Allah yang setia telah lama menunggu kedatangan-Nya, agar mendapat kelepasan dari dosa, penyakit dan kematian.
Yesus Kristus harus datang kembali ke dunia ini, karena la telah berjanji memberikan pahala kepada orang-orang benar.

“Sesungguhnya Aku datang segera dan Aku membawa upah-Ku untuk membalaskan kepada setiap orang menurut per-buatannya.” Wahyu 22:12.

“Dengan menantikan penggenapan pengharapan kita yang penuh bahagia dan penyataan kemuliaan Allah Yang Mahabesar dan Juruselamat kita Yesus Kristus.” Titus 2:13.

“Dan untuk memberikan kelegaan kepada kamu yang ditindas, dan juga kepada kami, pada waktu Tuhan Yesus dari dalam surga menyatakan diri-Nya bersama-sama dengan malaikat-malaikat-Nya.” 2 Tesalonika 1:7.

Sementara Yesus datang untuk menyelamatkan umat yang beriman, juga Yesus harus datang untuk menghukumkan orang-orang jahat.

“Sebab dosa-dosanya telah bertimbun-timbun sampai ke langit, dan Allah telah mengingat segala kejahatannya.” Wahyu 18:5.

“Di dalam api yang bernyala-nyala, dan mengadakan pembalasan terhadap mereka yang tidak mau mengenal Allah dan tidak mentaati Injil Yesus, Tuhan kita.” 2 Tesalonika 1: 8.

Yesus Kristus harus datang kembali untuk mendirikan kerajaan Kristus yang kekal abadi. Bangsa-bangsa di dunia ini terus bertempur satu dengan yang lain, dan Kristus harus meniadakan semua kerajaan di dunia ini.

“Tetapi pada zaman raja-raja. Allah semesta langit akan mendirikan suatu kerajaan yang tidak akan binasa sampai selama-lamanya. dan kekuasaan tidak akan beralih lagi kepada bangsa lain; kerajaan itu akan meremukkan segala kerajaan dan menghabisinya, tetapi kerajaan itu sendiri akan tetap untuk selama-lamanya.” Daniel 2:44.
“Kekuasaannya ialah kekuasaan yang kekal, yang tidak akan lenyap, dan kerajaan-Nya ialah kerajaan yang tidak akan musnah.” Daniel 7:14.

2. BAGAIMANAKAH CARA KEDATANGAN YESUS KRISTUS KEMBALI?

Ada beberapa pandangan orang terhadap kedatangan Yesus Kristus kembali ke dunia ini, yang tidak sesuai dengan ajaran Kitab Suci. Ada orang menganggap bahwa kedatangan Yesus Kristus itu hanyalah menurut pengertian kiasan. Misalnya, apabila seorang mencapai satu taraf kehidupan yang baru, maka Yesus sudah datang kepada orang itu. Pengertian ini pula berarti bahwa kedatangan Yesus itu adalah di samping secara kiasan juga untuk pribadi tiap orang. Ada pula yang mengatakan bahwa kedatangan Yesus kembali, terjadi tiap kali ada orang meninggal dunia! Pendapat serupa itu. jelas sekali bertentangan dengan ajaran Kitab Suci!
Kitab Suci menjelaskan peristiwa yang sebenarnya sebagai berikut:

“Sesudah Ia mengatakan demikian, terangkatlah Ia disaksikan oleh mereka, dan awan menutup-Nya dari pandangan mereka. Ketika mereka sedang menatap ke langit waktu Ia naik itu. Tiba-tiba berdirilah dua orang yang berpakaian putih dekat mereka, dan berkata kepada mereka: “Hai orang-orang Galilea. mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke surga meninggalkan kamu, akan datang kembali. Adalah sama seperti pada waktu la diangkat naik ke Surga.

Tegasnya, bahwa kedatangan Yesus Kristus, adalah nyata dan kelihatan. Yesus tidak akan datang secara sembunyi atau menampakkan diri hanya kepada sekelompok manusia saja atau kepada salah seorang secara individu, secara rahasia melainkan kedatangan-Nya itu adalah dalam keadaan yang sesungguhnya. Apabila Yesus datang, la akan dilihat orang sebagaimana murid-murid-Nya melihat Dia diangkat ke surga pada waktu itu.

“Lihatlah, la datang dengan awan-awan dan setiap mata akan melihat Dia, juga mereka yang telah menikam Dia. Dan semua bangsa di bumi akan meratapi Dia. Ya, amin.” Wahyu 1:7.

Untuk mendapatkan dengan benar cara kedatangan Yesus Kristus agar jangan sampai tertipu, Yesus sendiri telah berkata:

“Pada waktu itu jika orang berkata kepada kamu: Lihat, Mesias ada di sini, atau Mesias ada di sana, jangan kamu percaya… Sebab sama seperti kilat memancar dari sebelah timur dan melontarkan cahayanya sampai ke barat, demikian pulalah kelak kedatangan Anak Manusia.” Matius 24:23,27

Yesus akan datang dalam keadaan yang sesungguhnya, karena semua mata akan melihat kedatangan-Nya bahkan kedatangan-Nya itu akan hebat seperti kilat, yang terpancar dari timur ke barat, Yesus tidak akan datang sendirian, melainkan dengan kemuliaan malaikat-malaikat.

“Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka la akan bersemayam di atas takhta kemuliaan-Nya.” Matius 25:31.
“Sebab pada waktu tanda diberi, yaitu pada waktu penghulu malaikat berseru dan sangkakala Tuhan berbunyi, maka Tuhan sendiri akan turun dari surga….” 1 Tesalonika 4:16.

3. PERISTIWA APAKAH AKAN TERJADI WAKTU YESUS DATANG?

Peristiwa besar yang tetap menjadi masalah dalam kehidupan manusia ialah kematian. Tetapi apabila Yesus datang masalah kematian itu akan langsung diatasi dan diselesaikan. Khusus bagi orang yang percaya kepada-Nya, kepada umat Allah yang saleh, diberikan perjanjian ini.

“Sebab pada waktu tanda diberi, yaitu pada waktu penghulu malaikat berseru dan sangkakala Tuhan berbunyi, maka Tuhan sendiri akan turun dari surga dan mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dulu bangkit.” 1 Tesalonika 4:16.

Inilah salah satu bagian dari rencana keselamatan Allah bagi manusia berdosa dan yang harus mati itu. Bahwa mereka yang telah mati dalam iman, akan dibangkitkan.

” Janganlah kamu heran akan hal itu, sebab saatnya akan tiba, bahwa semua orang yang di dalam kuburan akan mendengar suara-Nya, dan mereka yang telah berbuat baik akan keluar dan bangkit untuk hidup yang kekal, tetapi mereka yang telah berbuat jahat akan bangkit untuk dihukum.” Yohanes 5:28-29.

Satu kegenapan perjanjian Allah yang indah bagi umat Allah! Bangkit dari kematian! Bukan itu saja, tetapi pada waktu kebangkitan itu, mereka akan diubahkan, dari tubuh yang fana, menjadi tubuh yang kekal! Tubuh yang tidak berpenyakit!

“Kita semuanya akan diubah, dalam sekejap mata, pada waktu bunyi nafiri yang terakhir. Sebab nafiri akan berbunyi dan orang-orang mati akan dibangkitkan dalam keadaan yang tidak dapat binasa dan kita semua akan diubah. Karena yang dapat binasa ini harus mengenakan yang tidak dapat binasa, dan yang dapat mati ini harus mengenakan yang tidak dapat mati.” 1 Korintus 15:52-53.

Alangkah bahagianya waktu itu! Tubuh kita yang selalu menjadi sasaran penyakit, dan penderitaan, akan diganti dengan tubuh yang baru dan kekal. Tubuh kita yang menjadi hancur dan busuk pada waktu kematian, akan dibangkitkan dengan keadaannya yang tetap segar dan sehat! Tidak perlu khawatir tentang serangan penyakit karena tidak ada penyakit lagi! Tidak perlu obat! Tidak takut penyakit kanker lagi! Kristus sudah datang! Tidak perlu rumah sakit! Tidak perlu tanah untuk kuburan. Semuanya sudah lalu! Kristus sudah datang!
Kedatangan Kristus bukan saja membangkitkan orang-orang yang benar dari dalam kubur dan mengubahkan tubuh mereka dengan tubuh yang baru dan kekal, tetapi juga akan mengambil mereka dari dunia yang berdosa ini, dan membawa mereka pulang ke surga!

“Sesudah itu, kita yang hidup, yang masih tinggal, akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa. Demikianlah kita akan selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan.” I Tesalonika 4:17.

Sementara kedatangan Yesus kembali ke dunia ini, menjadi pengharapan yang berbahagia dan keselamatan bagi orang-orang benar yang percaya kepada Allah, hari itu adalah pula menjadi hari pembalasan hukuman bagi orang-orang jahat! Perhatikan-lah apa yang akan terjadi dengan mereka! Semua orang jahat yang menolak firman Allah dan tidak beriman, akan menerima hukuman pada waktu kedatangan Yesus.
Kitab Suci menjelaskan bahwa pada waktu Yesus datang, dunia ini akan dihancurkan.

“Tetapi pada hari Tuhan akan tiba seperti pencuri, Pada hari itu langit akan lenyap dengan gemuruh yang dahsyat dan unsur-unsur dunia akan hangus dalam nyala api, dan bumi dan segala yang ada di atasnya akan hilang lenyap.” 2 Petrus 3:10.

Apakah yang terjadi dengan orang-orang yang tidak beribadat kepada Allah?

“Maka menyusutlah langit bagaikan gulungan kitab yang digulung dan tergeserlah gunung-gunung dan pulau-pulau dari tempatnya. Dan raja-raja di bumi dan pembesar-pembesar serta perwira-perwira, dan orang-orang kaya serta orang-orang berkuasa, dan semua budak serta orang merdeka bersembunyi ke dalam gua-gua dan celah-celah batu karang di gunung. Dan mereka berkata kepada gunung-gunung dan kepada batu-batu karang itu: “Runtuhlah menimpa kami dan sembunyikanlah kami terhadap Dia, yang duduk di atas takhta dan terhadap murka Anak Domba itu. “Sebab sudah tiba hari besar murka mereka dan siapakah yang dapat bertahan?” Wahyu 6:14-17.

Alangkah sedihnya! Mereka itu telah mendapat kesempatan hidup dalam dunia dengan segala kebesaran, kekayaan, pangkat, tetapi tidak mau berbakti kepada Allah! Mereka adalah orang-orang yang mementingkan makan, minum, mencari kesenangan-kesenangan duniawi, berjudi dan menikmati segala kepelesiran, dan tidak mempedulikan agama. Mereka kemudian sadar tapi sudah terlambat, karena kesempatan yang baik telah mereka sia-siakan, mereka tidak mau mengikuti firman Allah dan menganggap enteng soal agama, maka Allah tidak dapat menyelamatkan mereka. Mereka berteriak, menangis meminta perlindungan pada gunung-gunung batu, tapi sia-sia, dan mereka meminta supaya batu-batu itu menimpa dan membinasakan mereka!

“Dan Ia akan berkata juga kepada mereka yang di sebelah kiri-Nya: Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah sedia untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya.” Matius 25:41.
“Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” Matius 7:23.

4. BERSEDIA UNTUK BERTEMU DENGAN YESUS KRISTUS

Persiapan apakah yang perlu diadakan jika kita mau bertemu dengan Yesus dan diselamatkan pada hari kedatangan-Nya? Apakah keselamatan itu diberikan bagi semua orang, atau hanya kepada rombongan tertentu saja? Tidak! Adapun rencana keselamatan Allah itu disediakan bagi semua orang, yang mau mengikuti kehendak-Nya. Jika demikian apakah syarat-syarat yang harus diperbuat oleh seseorang yang mau diselamatkan pada hari kedatangan Yesus?
Perhatikanlah petunjuk yang berikut ini. Nasihat Tuhan ini adalah bagi semua orang sebagai persiapan menjelang hari yang hebat itu.

“Carilah Tuhan selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat! Baiklah orang fasik meninggalkan jalannya, dan orang jahat meninggalkan rancangannya; baiklah ia kembali kepada TUHAN, maka Dia akan mengasihaninya, dan kepada Allah kita, sebab Ia memberi pengampunan dengan limpahnya.” Yesaya 55:6,7.
“Mencari Tuhan, berdoa, bertobat dari segala jalan kehidupan yang jahat, adalah usaha penting yang harus dilaksanakan agar boleh diselamatkan pada waktu Yesus datang!
” Setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepada-Nya, menyucikan diri sama seperti Dia yang adalah suci.” 1 Yohanes 3:3.

Bagaimana dapat kita bersedia? Dengarlah nasihat yang berikut ini:

“Tetapi hari Tuhan akan tiba seperti pencuri. Pada hari itu langit akan lenyap dengan gemuruh yang dahsyat dan unsur-unsur dunia akan hangus dalam nyala api, dan bumi dan segala yang ada di atasnya akan hilang lenyap. Jadi, jika segala sesuatu ini akan hancur secara demikian, betapa suci dan salehnya kamu harus hidup yaitu kamu yang menantikan dan mempercepat kedatangan hari Allah. Pada hari itu langit akan binasa dalam api dan unsur-unsur dunia akan hancur .karena nyalanya. Tetapi sesuai dengan janji-Nya, kita menantikan langit yang baru dan bumi yang baru, di mana terdapat kebenaran.” 2 Petrus 3:10-13.

Dapatkah seseorang mengetahui bila kedatangan Yesus kembali? Ia menasihatkan selanjutnya, agar semua orang yang menantikan kedatangan-Nya itu harus waspada dan berdoa setiap waktu.

“Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang.” Matius 24:42.
Alangkah bahagianya menjadi umat Allah dan berbakti pada-Nya. Betapa mulianya kesempatan termasuk dalam rombongan umat yang menantikan kedatangan Yesus kembali ke dunia ini! Walaupun banyak kali menghadapi kesusahan dan pergumulan dalam kehidupan di dunia ini, umat Tuhan tetap menatap kepada Yesus Kristus, menunggu dengan tabah perjanjian-Nya dan penuh pengharapan untuk segera terwujudnya hari keselamatan itu. Segala kesusahan dan penderitaan di dunia ini akan lenyap apabila mereka memandang Yesus datang di awan-awan beserta malaikat-malaikat-Nya. Mereka akan bersorak dengan kesukaan.
“Pada waktu itu orang akan berkata: ‘Sesungguhnya, inilah Allah kita, yang kita nanti-nantikan, supaya kita diselamatkan. Inilah TUHAN yang kita nanti-nantikan; marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita oleh karena keselamatan yang diadakan-Nya!” Yesaya 25:9.

source : tigamalaikat.blogger.com via forumkristen.com

 
 

Tag: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

ARTI HIDUP SEJATI

oleh Denny Teguh Sutandio, S.S., jemaat Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) Andhika, Surabaya dan proofreader di Momentum Christian Literature, Surabaya yg terbeban untuk mensharingkan Theologia Reformed Injili dari Pdt. Dr. Stephen Tong & berisi artikel-artikel : Mandat Budaya, Kegiatan Reformed Injili, Theologia Sistematika, Eksposisi Alkitab, Renungan, Analisa Kritis Terhadap Buku The Purpose Driven Life, dll

“ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.”
(Kejadian 2:7)

1.1 Arti Hidup Menurut Perspektif Dunia
Dunia di mana kita hidupi hari ini sedang mengalami krisis makna hidup. Berbagai cara manusia berusaha untuk mencoba menemukan makna hidupnya, dari menyiksa diri (beraskese), sampai hidup hedonis yang melampiaskan semua kesenangan hawa nafsunya. Mereka pada intinya ingin mengerti makna hidup untuk selanjutnya makna itu bisa mereka jalani dengan baik. Oleh karena itu, marilah kita melihat sekelumit tentang definisi hidup dalam perspektif dunia kita.
1. Hidup Adalah Perjuangan
Pertama, dunia kita melihat hidup adalah suatu perjuangan. Di dalam suatu perjuangan, dibutuhkan kekuatan untuk mengerjakannya. Tidaklah heran, manusia di dunia suka berjuang meskipun banyak dari mereka tidak mengerti motivasi dan tujuan dari apa yang diperjuangkannya. Yang mereka ketahui bahwa hidup ini adalah hanya untuk berjuang, terus berjuang agar mencapai apa yang diidam-idamkan. Oleh karena itu, di dunia ini sangatlah laris promosi training motivasi dari para motivator dari sekelas Anthony Robbins sampai Andrie Wongso dengan idenya Success is My Right. Para motivator ini terus memberikan motivasi bagi para peserta seminarnya dan manusia dunia ini agar mereka yang merasa down boleh ditingkatkan kembali semangatnya, tetapi rupa-rupanya semangat ini tidak bersumber dari Allah, sehingga motivasi peningkatan semangat ini adalah untuk kepentingan diri (humanisme) dan tujuannya pun untuk kemuliaan diri (meskipun di dalam beberapa buku “rohani” sekalipun, tujuan motivasi ini untuk “kemuliaan Tuhan”). Inilah jiwa atheisme praktis di dalam diri manusia yang berakar dari humanisme ditambah semangat pantheisme dan Gerakan Zaman Baru yang diindoktrinasikan melalui berbagai training motivasi dan pengembangan pribadi. Perjuangan yang dilandasi oleh semangat ingin mencapai cita-cita dan self-centered ini tentu tidak akan menemukan makna hidup sejati dan tentunya juga makna perjuangan sejati, karena yang menjadi landasannya adalah kepentingan diri yang sebenarnya makhluk yang terbatas.

2. Hidup Adalah Kesempatan
Kedua, dunia kita yang terus mau berjuang, adalah dunia yang juga mengidentikkan hidup adalah kesempatan. Mereka menyadari bahwa hidup di dunia ini hanya sementara, oleh karena itu mereka memakai setiap kesempatan yang ada untuk meraih apa yang mereka inginkan. Di sini, dunia kita mengaitkan hidup dengan waktu yang ada. Di dalam setiap waktu/kesempatan, mereka mau mengerjakan apa yang diinginkan oleh mereka, entah itu baik atau jahat menurut pandangan Alkitab, mereka tidak seberapa mempedulikannya. Bagi mereka, apa yang diinginkannya harus dicapai di dalam setiap kesempatan. Misalnya, orang yang dulunya hidup miskin ingin menjadi kaya, maka dia bukan hanya berjuang untuk meraih uang, tetapi juga menggunakan setiap kesempatan yang ada untuk meraih yang dicita-citakan. Tidak heran, beberapa dari mereka sampai-sampai menggunakan kesempatan untuk meraih yang dicita-citakan dengan hal-hal yang buruk, contohnya, dengan korupsi, dll. Di sini, letak kegagalan dunia kita yang semakin jauh dari Allah, yaitu memandang setiap waktu/kesempatan adalah untuk dirinya sendiri.

3. Hidup Untuk Kerja
Ketiga, hidup adalah kesempatan direalisasikan oleh banyak manusia sekarang dengan bekerja. Bagi banyak orangtua (termasuk banyak orangtua “Kristen”), kerja adalah segala sesuatu. Manusia dapat disebut manusia ketika mereka sudah bisa berdikari sendiri atau bekerja untuk mendapatkan uang sendiri tanpa tergantung dengan orangtua. Akibatnya, sejak kecil, anak-anak sudah ditanamkan konsep bahwa hidup itu untuk bekerja, sekolah untuk bekerja, dll. Tidak heran, cukup banyak anak yang masih kecil, misalnya SD atau SMP sudah bisa bekerja, misalnya, menjadi artis, model, dll. Akhirnya, fokus hidup sudah dialihkan dari Tuhan kepada kerja. Itulah tipu daya iblis yang bekerja di abad postmodern ini dengan menyingkirkan Allah dari hidup manusia. Akibatnya, mereka yang memandang hidup adalah kerja, akan memandang setiap kesempatan hanya untuk bekerja, dan aktivitas-aktivitas yang menurut mereka “tidak penting”, misalnya bahkan pergi ke gereja, persekutuan, makan, minum, tidur, dll, adalah sesuatu yang tidak penting, sehingga mereka rela mengorbankan banyak waktu untuk bekerja. Yang paling celaka adalah seorang ayah/suami/kepala keluarga yang memiliki konsep bahwa hidup untuk bekerja pasti berdampak kepada keluarganya, di mana istri akan mengalami kekurangan perhatian dari sang suami, dan anak-anak pun mengalami kekurangan perhatian dari ayah mereka, sehingga akhirnya keluarga ini akan menjadi berantakan dan berakhir kepada perceraian. Perceraian ini bisa terjadi salah satunya karena terlalu mementingkan pekerjaan sebagai fokus hidup manusia. Akibat lainnya dari konsep ini adalah mengerjakan segala sesuatu dengan keterpaksaan. Artinya, hidup orang ini akan diikat oleh pekerjaannya, baik di kantor maupun di rumah. Sehinga, tidak heran, orang ini lama-kelamaan akan menjadi stress, depresi dan akhirnya, jika tidak kuat lagi, akan bunuh diri.

4. Hidup Adalah Uang
Keempat, orang yang sudah memfokuskan hidupnya pada bekerja, maka dapat dipastikan banyak dari mereka juga memfokuskan hidupnya pada uang. Konsep ketiga dan keempat ini sangat berkaitan erat. Seorang yang memandang hidup adalah hanya untuk uang, maka segala sesuatu diukur dari segi apakah yang dilakukannya itu dapat mendapatkan uang/profit bagi dirinya. Inilah jiwa pragmatis (utilitarian) dan materalis yang dianut oleh banyak manusia postmodern ini (bahkan di dalamnya banyak orang “Kristen”). Bagi mereka, yang penting adalah mereka mendapatkan uang sebanyak-banyaknya bahkan kalau perlu “mengorbankan orang lain”. Tidak heran, bisnis Multi Level Marketing (MLM), asuransi, dll laku keras, karena manusia sedang dikunci oleh uang/materi yang fana sifatnya. Profesi dokter pun tidak luput dari fokus hidup manusia yaitu uang. Dokter bukan bekerja untuk kepentingan pasien lagi, tetapi untuk uang. Tidak usah heran, mengapa banyak dokter tidak langsung memberikan obat kepada pasien yang sedang sakit, tetapi dokter tersebut memberikan obat secara bertahap (banyak dari mereka bukan beralasan medis), maksudnya, kalau pasien itu sudah habis meminum obat yang satu, maka mereka akan kembali lagi dan si dokter pasti mendapatkan pemasukan uang lagi melalui kedatangan si pasien tersebut. Bahkan yang lebih celaka, banyak pendidik, dosen, dll mengajar bukan karena panggilan-Nya di dalam hidup mereka, tetapi karena uang atau menimba pengalaman. Maka, jangan heran, banyak guru/dosen baik yang mengaku diri “Kristen” berani mengajari anak-anak muridnya secara tidak bertanggungjawab, misalnya ada seorang dosen “Kristen” saya secara tidak bertanggungjawab mengatakan, “science itu tidak ada hubungannya dengan religion”. Apakah pendeta juga tidak bisa demikian ? BISA. Banyak “hamba Tuhan” terutama di dalam banyak gereja-gereja kontemporer yang populer saat ini juga memfokuskan hidupnya pada uang dan profit pribadi. Jangan heran, di abad postmodern ini, yang dipentingkan bukan lagi pengertian/pengetahuan yang beres, tetapi feeling, lalu gereja-gereja pun berlomba-lomba menyediakan sarana-sarana yang dapat memenuhi feeling banyak orang “Kristen. Caranya ? Mudah, memanggil “pendeta-pendeta” yang “pintar” berkhotbah, bercerita lucu, lalu mengkhotbahkan kemakmuran (meskipun banyak dari mereka menolak bahwa gerejanya mengajarkan kemakmuran, tetapi yang lebih aneh lagi, slogan gerejanya mengandung unsur kemakmuran), dll. Zaman kita adalah zaman di mana sedang musim cho gereja (cari untung melalui gereja). Motivasinya, jelas, para “hamba Tuhan” gereja tersebut “melayani Tuhan” demi uang, agar bisa sukses, kaya, dll. Lalu, kesuksesannya untuk apa ? Jelas untuk profit pribadi, meskipun di depan mimbar selalu dipromosikan untuk “pekerjaan Tuhan”. Saya sudah terlalu banyak menemukan “hamba Tuhan” model ini dan ibu saya sendiri sudah banyak sekali mengalami hal ini dan menceritakannya kepada saya.
Adalah suatu kebodohan yang luar biasa, jika manusia diciptakan segambar dan serupa dengan Allah bisa mau diperbudak oleh uang yang adalah benda mati. Uang yang seharusnya ditundukkan oleh manusia, malahan sekarang dibalik, lalu uang menjadi tuan yang memerintah manusia. Ini namanya pembalikan posisi, yang merupakan salah satu ciri masuknya dosa ke dalam diri manusia. Tidak heran, yang sebenarnya sangat penting, misalnya membaca Alkitab, bersekutu dengan-Nya, dll, dianggap oleh manusia dunia menjadi tidak penting, dll, dan lebih aneh lagi jika ada seorang “Kristen” berjiwa pragmatis dan relativis mengatakan bahwa itu semua tergantung pada masing-masing orang, lalu kita tidak boleh memaksa mereka. Saya mengira anggapan ini sama sekali bukan anggapan seorang “Kristen” meskipun mengaku diri “Kristen”, aktif di dalam persekutuan gereja sekalipun. Seorang yang cuek dengan orang lain sama sekali bukan ciri orang Kristen sejati.

5. Hidup itu Biasa Saja
Prinsip kelima dari definisi hidup yang dunia sedang ungkapkan yaitu hidup itu biasa saja, jadi jalani sebagaimana adanya. Inilah jiwa pragmatisme dunia kita yang muncul melalui definisi hidup yang biasa saja. Hidup yang biasa saja menandakan bahwa di dalam diri manusia sudah tidak ada lagi makna hidup sejati, sehingga hidup ini hanya dijalani tanpa arah dan tujuan yang pasti sesuai dengan firman-Nya. Tidak usah heran, ketika manusia dunia hanya mengerti hidup ini hanya biasa saja, maka mayoritas mereka menggunakan dan mengisi hidup mereka hanya untuk kepuasan diri mereka saja. Salah satu iklan rokok mengatakan, enjoy aja. Itu yang sedang dunia tawarkan bahwa yang penting itu enjoy, suka-suka bertindak apapun, yang penting happy, senang, gembira, dll. Hidup yang serba gembira ini sangat berbahaya, karena hidup yang gembira tidak mengerti sesungguhnya apa itu penderitaan, kesusahan, dll. Tidak heran, banyak orang “Kristen” yang sudah diindoktrinasi bahwa menjadi “Kristen” pasti kaya, sukses, dll, ketika ada penganiayaan datang, mereka lah yang pertama kali langsung menghujat Tuhan, karena kondisi yang serba pleasure sebenarnya tidak mengerti hidup itu sesungguhnya.

6. Hidup Adalah Penderitaan
Kalau pada poin kelima, dunia kita mengartikan hidup itu sebagai sesuatu yang biasa saja, lalu bisa bertindak seenaknya sendiri, maka pada poin keenam, sebagai kebalikannya, beberapa manusia dunia yang ekstrim mengatakan bahwa hidup itu penderitaan. Di dalam hidup itu pasti menderita, entah itu ditinggal oleh seseorang yang dikasihi yang telah meninggal, putus pacar, dll. Pokoknya, tidak ada hidup tanpa penderitaan. Inilah wajah dunia kita yang hopeless yang mencari makna hidup tetapi akhirnya kehilangan hidup itu sendiri, karena terlepas dari jalan yang Allah telah tetapkan. Itulah akibat dari menaruh pengharapan kepada dunia ciptaan yang terbatas dan berdosa ini. Tetapi, apakah kalau kita menaruh pengharapan kepada Tuhan pasti kaya dan tidak menderita ? TIDAK. Kita jangan terlalu ekstrim. KeKristenan hendaknya jangan terlalu ekstrim menekankan dua kubu, yaitu terlalu mementingkan kesuksesan hidup, yang lainnya menekankan penderitaan terus-menerus. KeKristenan harus seimbang, menyeimbangkan antara penderitaan karena nama Tuhan dengan pengharapan sesudah penderitaan yaitu hidup kekal bersama-Nya.

7. Hidup Untuk Orang Lain
Terakhir, hanya sedikit manusia bisa memiliki tujuan hidup demi orang lain. Artinya, meskipun definisi hidup yang terakhir ini masih kurang, tetapi setidaknya, defisini hidup ini masih lebih baik dari definisi hidup dari nomer satu sampai dengan 6 yang self-centered. Pada konsep terakhir ini, manusia memandang hidupnya dipersembahkan bagi orang lain. Contohnya, banyak pelukis, komposer musik, dll melakukan segala sesuatu demi orang lain, sehingga tidak heran nama-nama mereka cukup dikenal di dalam zamannya maupun zaman sesudah mereka meninggal dunia. Johan Sebastian Bach, G. F. Hendel, Leonardo da Vinci, dll adalah orang-orang yang telah bersumbangsih bagi dunia karena mereka mementingkan orang lain ketimbang diri. Mungkin saja mereka mau rugi mengorbankan waktu, tetapi yang penting orang lain mendapatkan kepuasan dari hasil kerugiannya. Tentu itu berbeda dengan semangat manusia di abad postmodern yang lebih mementingkan profit pribadi dengan mengorbankan orang lain.

1.2 Arti Hidup Menurut Perspektif “Kristen” yang Palsu
Lalu, sekarang ini, kita akan beralih kepada arti hidup menurut perspektif “Kristen” yang seolah-olah kelihatan lebih “rohani”, tetapi sebenarnya palsu. Mereka berani menggunakan istilah “Kristen” untuk menjelaskan makna hidup, padahal istilah itu hanya sekedar topeng untuk menyelimuti ide humanisme, pantheisme dan pragmatisme di dalam dirinya. Itulah yang kita lihat di dalam buku The Purpose Driven Life karya Rick Warren.
Dari judul bukunya saja, kita sudah menemukan ide yang sudah saya jelaskan tadi, yaitu istilah “Kristen” dijadikan topeng (dengan cara mengutip ribuan ayat Alkitab yang kebanyakan di luar konteks asli) untuk menyelimuti esensi sebenarnya yaitu humanisme, pantheisme, materalisme dan pragmatisme. Tentu, di dalam metode penafsiran Alkitab, Warren menggunakan tafsiran-tafsiran Alkitab yang semau gue menurut seleranya pribadi tanpa memperhatikan konteks, bahasa asli dan terjemahan-terjemahan Alkitab yang lebih tepat. Itulah metode eisegese dalam penafsiran Alkitab yang salah, tetapi laris dalam masyarakat “Kristen” (khususnya yang bertheologia Injili non-Reformed). Hal ini akan banyak disinggung dan diuraikan secara tuntas pada bab kedua makalah ini. Kembali, apakah hidup kita digerakkan tujuan ? Kalau benar demikian, sebenarnya ada tiga pertanyaan penting yang perlu dipertanyakan. Pertama, siapa yang mengarahkan tujuan itu. Kedua, apakah tujuan yang diarahkan itu ? dan ketiga, tujuan siapa yang dituju ? (atau untuk apa tujuan itu ?) Jelas, di dalam buku The Purpose Driven Life, meskipun menggunakan nama “Tuhan”, sebenarnya yang mengarahkan tujuan itu adalah diri manusia itu sendiri, tujuan itu adalah berkenaan dengan cita-cita manusia yang hebat dan mulia (tanpa Allah) lalu tujuan itu membawa kemuliaan bagi diri manusia sendiri (persis terbalik dari Roma 11:36 yang mengajarkan bahwa segala sesuatu adalah dari Dia, oleh Dia dan untuk Dia, bagi Dia lah kemuliaan selama-lamanya). Inilah jiwa humanisme sekuler (atau sekularisme) tetapi yang masih memperalat “Tuhan” agar kelihatan “rohani”. Inilah jiwa manusia berdosa.

1.3 Arti Hidup Sejati Menurut Alkitab
Lalu, apa kata Alkitab tentang hidup sejati ? Pada bagian awal Bab 1 ini, saya sudah mengutip Kejadian 2:7, “ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.” (Terjemahan Baru LAI) atau terjemahan Alkitab BIS memberikan pengertian yang lebih jelas, “Kemudian TUHAN Allah mengambil sedikit tanah, membentuknya menjadi seorang manusia, lalu menghembuskan napas yang memberi hidup ke dalam lubang hidungnya; maka hiduplah manusia itu.” Kata “nafas hidup” berasal dari bahasa Ibrani, neshâmâh yang berarti tiupan atau hembusan atau nafas yang vital/sangat penting/berkenaan dengan hidup. Kata Ibrani ini juga dipakai di dalam Amsal 20:27 untuk kata “Roh manusia” (Terjemahan Baru LAI) atau “hati nurani manusia” (Alkitab BIS). Lalu kata “makhluk yang hidup” (TB-LAI) diterjemahkan a living soul oleh King James Version (KJV) yang berarti jiwa/makhluk yang hidup. Kata “soul” dalam KJV ini diterjemahkan ke dalam bahasa Ibrani nephesh yang artinya makhluk yang bernafas. Dari Kejadian 2:7 inilah, kita mendapatkan satu prinsip hidup sejati dari Alkitab, yaitu hidup sejati adalah hidup yang berpaut kepada Allah sebagai Sumber Hidup. Kalau Allah tidak menghembuskan nafas hidup-Nya ke dalam hidung manusia, maka manusia tidak dapat menjadi makhluk yang hidup. Nafas hidup-Nya itulah sumber hidup bagi hidup manusia yang mengakibatkan manusia bisa bernafas dan itulah yang disebut makhluk yang hidup. Arti hidup manusia yang sejati tidak didapat dari manusia itu sendiri yang sendiri merupakan makhluk yang dicipta, tetapi dari Allah sebagai Sang Pencipta. Ketika kita ingin mengerti apa arti hidup sejati belajarlah dan bertanyalah kepada Allah karena Ia yang menciptakan kita pasti mengetahui apa arti hidup itu, dan jangan sekali-kali bertanya kepada para psikolog, eksistensialis, dll yang sendirinya juga adalah sesama manusia. Sungguh suatu kebodohan manusia dunia ini ketika mereka yang ingin mengerti arti hidup tidak langsung bertanya kepada Sang Sumber Hidup, tetapi bertanya kepada sesama manusia yang sama-sama berdosa dan terbatas. Itulah kegagalan psikologi dan eksistensialis yang tidak kembali kepada Allah.
Tetapi tahukah kita bahwa hidup manusia yang pada awalnya telah diciptakan Allah begitu mulia sehingga manusia langsung bercakap-cakap dengan Allah ternyata dirusak oleh manusia sendiri dengan meragukan eksistensi Allah. Itulah dosa. Dosa bukan dimulai ketika Hawa memetik buah pengetahuan yang baik dan jahat yang dilarang oleh Allah, tetapi dosa dimulai ketika manusia mulai meragukan kebenaran Allah. Usaha meragukan kebenaran Allah menjadi cikal bakal iblis terus mencobai manusia dan akhirnya manusia pertama jatuh ke dalam dosa yang mengakibatkan manusia setelah Adam dan Hawa ikut mewarisi dosa asal (original sin), di samping ada dosa aktual yang dilakukan oleh masing-masing pribadi manusia. Ketika dosa masuk ke dalam manusia, hidup manusia mulai kehilangan arah. Kehilangan arah ini ditandai dengan keinginan manusia terus melawan Allah dan ini mulai nampak ketika Kain yang membenci dan menaruh dendam kepada adiknya, Habel karena persembahan Kain tidak diterima oleh Tuhan, sedangkan persembahan adiknya diterima oleh Tuhan. Lalu, dilanjutkan dengan kejadian-kejadian dan tindakan-tindakan manusia yang membuat Tuhan menyesal, sampai-sampai Tuhan mengatakan, “Ketika dilihat TUHAN, bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata, maka menyesallah TUHAN, bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi, dan hal itu memilukan hati-Nya.” (Kejadian 6:5-6) Tetapi yang menarik, di dalam setiap kejahatan yang manusia lakukan, Tuhan tetap menyediakan sekelompok sisa (remnant) yang masih setia kepada Tuhan. Dua ayat setelah Kejadian 6:6, yaitu pada ayat 8, Alkitab mengatakan, “Tetapi Nuh mendapat kasih karunia di mata TUHAN.” Nuh bisa mendapatkan anugerah Tuhan, itu semata-mata karena kedaulatan-Nya saja, bukan karena kehendak Nuh yang ingin mencari Tuhan. Allah yang berdaulat adalah Ia yang berkehendak menyatakan anugerah-Nya kepada siapapun menurut kedaulatan-Nya, bukan menurut perbuatan baik manusia tersebut. Itulah Reformed theology. Nuh yang mendapatkan kasih karunia Tuhan di antara manusia-manusia berdosa di zamannya berusaha mempertanggungjawabkan anugerah-Nya itu dengan hidup beres dan menaati Tuhan dan firman-Nya. Lalu, akibat ketaatannya itu dari membangun bahtera sampai keluar dari bahtera dan mendirikan mezbah bagi Tuhan, maka Tuhan berjanji di dalam Kejadian 8:21-22, “Aku takkan mengutuk bumi ini lagi karena manusia, sekalipun yang ditimbulkan hatinya adalah jahat dari sejak kecilnya, dan Aku takkan membinasakan lagi segala yang hidup seperti yang telah Kulakukan. Selama bumi masih ada, takkan berhenti-henti musim menabur dan menuai, dingin dan panas, kemarau dan hujan, siang dan malam.” Bisa saja, pada waktu itu, Nuh tidak menaati Tuhan, lalu berdalih dengan seribu macam alasan, akibatnya Nuh itu mati bersama orang-orang sezamannya. Tetapi puji Tuhan, Nuh yang kita kenal di dalam Alkitab adalah Nuh yang meresponi anugerah Allah dengan tepat dan taat mutlak kepada-Nya. Di situlah, Nuh mendapatkan makna hidup sejati, yaitu ketika ia kembali taat kepada-Nya. Banyak orang dunia hari-hari ini berpikir bahwa menjadi Kristen itu susah, karena apa saja tidak boleh, lalu mereka berpikir bahwa kalau tidak menjadi Kristen itu lebih enak. Itu adalah kesalahan besar. Saya bertanya, kalau kita hidup di zaman Nuh, apakah kita ingin menjadi seperti Nuh atau orang-orang sezamannya ? Kalau orang-orang dunia pasti memilih menjadi seperti orang-orang yang hidup di zaman Nuh yang mengejek Nuh ketika Nuh membangun bahtera, mereka berpesta pora, mabuk-mabukan, dll. Lalu, mereka menganggap diri hebat, bebas, dan itulah hidup yang mereka cari. Tetapi benarkah demikian ? Setelah bencana air bah yang menyapu bersih orang-orang di zaman itu, kecuali Nuh, maka mereka baru sadar bahwa hidup itu hanya sementara dan hidup yang tidak kembali kepada Allah akan sia-sia adanya, tetapi Nuh meskipun dirinya dihina ketika membangun bahtera pada waktu kemarau, tetapi ia mengerti hidup itu sesungguhnya karena ia kembali taat kepada Allah. Ketaatan kepada Allah itulah kunci utama kita menemukan hidup sejati. Tetapi kesalehan seperti Nuh itu sebentar saja terjadi di dalam sejarah, selanjutnya orang-orang setelah Nuh banyak bermunculan dan mereka banyak yang jahat dan memberontak terhadap Tuhan. Oleh karena itu, Allah yang Berdaulat memilih bangsa Israel menjadi bangsa pilihan-Nya. Kepada mereka, Allah mewahyukan Taurat untuk memimpin dan mengatur perilaku mereka agar berkenan kepada-Nya. Tetapi, bagaimana faktanya, apakah mereka semua menuruti perintah Taurat ? TIDAK. Mereka memang menghafal semua yang tertulis di dalam Taurat, tetapi itu hanya menguasai bidang rasio saja, dan tidak benar-benar mengerti artinya. Itulah sebabnya, mereka semakin mengerti Taurat, bukan semakin mengerti esensi Taurat, tetapi lebih menekankan fenomena upacara sesuai Taurat. Bahkan ada yang melarang orang berjalan beberapa kilometer di hari Sabat, dll. Taurat yang sebenarnya baik malahan dibuat tidak baik oleh para ahli Taurat yang menganggap diri ahli di bidang Taurat (itulah namanya ahli Taurat, ahli di bidang Taurat, ahli pula untuk memelintir hal-hal esensi di dalam Taurat). Mereka berpikir dengan hidup berbuat baik seperti yang Taurat perintahkan, mereka akan menemukan arti hidup dan keselamatan sejati. Dari Surga, Allah tidak tinggal diam, Ia mengutus Putra Tunggal-Nya, Tuhan Yesus Kristus untuk mengembalikan fungsi hidup sebagaimana pada waktu Ia menciptakan manusia. Kristus datang untuk menebus dosa manusia dan mengembalikan makna hidup sejati. Ketika Ia berinkarnasi dan turun menjadi manusia tanpa meninggalkan natur Ilahinya, Ia mengajarkan prinsip-prinsip penting tentang makna hidup. Mari kita menelusuri satu per satu di dalam Injil.

Pertama, hidup itu berpusat kepada firman Allah. Hal ini tercantum di dalam Matius 4:4, “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” (dikutip dari Ulangan 8:3) Hidup manusia bukan sekedar makan, minum, bersenang-senang, tetapi hidup manusia itu berasal dari Allah, atau lebih tepatnya dari setiap firman Allah. Di sini, Tuhan Yesus tidak mengatakan bahwa manusia itu hidup tidak memerlukan roti sama sekali, tetapi Ia mengatakan bahwa manusia tidak hanya memerlukan roti saja untuk hidup. Kata “hanya” atau “saja” dalam ayat ini berarti kita masih membutuhkan roti atau makanan jasmani untuk menyambung hidup, tetapi poin penting atau esensinya bukan terletak pada roti atau sesuatu yang jasmaniah, tetapi firman Allah itulah yang esensi dan terpenting yang menjamin hidup kita menjadi bermakna. Dengan kata lain, firman Allah itu menjadi Sumber Hidup kita yang paling hakiki. Firman Allah menjadi penuntun, pemimpin dan pengoreksi hidup kita ketika kita ingin berbuat dosa. Firman Allah menjadi batas dan penghakim bagi kita, sehingga kita tidak keluar dari jalan-Nya, sebagaimana yang pemazmur katakan di dalam Mazmur 119:105, “Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.” Lalu, di dalam pasal yang sama di ayat 1-10, “Berbahagialah orang-orang yang hidupnya tidak bercela, yang hidup menurut Taurat TUHAN. Berbahagialah orang-orang yang memegang peringatan-peringatan-Nya, yang mencari Dia dengan segenap hati, yang juga tidak melakukan kejahatan, tetapi yang hidup menurut jalan-jalan yang ditunjukkan-Nya. Engkau sendiri telah menyampaikan titah-titah-Mu, supaya dipegang dengan sungguh-sungguh. Sekiranya hidupku tentu untuk berpegang pada ketetapan-Mu! Maka aku tidak akan mendapat malu, apabila aku mengamat-amati segala perintah-Mu. Aku akan bersyukur kepada-Mu dengan hati jujur, apabila aku belajar hukum-hukum-Mu yang adil. Aku akan berpegang pada ketetapan-ketetapan-Mu, janganlah tinggalkan aku sama sekali. Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu. Dengan segenap hatiku aku mencari Engkau, janganlah biarkan aku menyimpang dari perintah-perintah-Mu.” Firman-Nya itu sangat berarti bagi hidup pemazmur. Hal ini sangat berbeda total dengan banyak paradigma hidup yang dianut oleh banyak orang yang mengaku diri “Kristen” apalagi “melayani Tuhan” lalu alergi mendengar kata “Tuhan” disebutkan di luar gereja. Kalau di dalam Mazmur 119:9, pemazmur mengatakan bahwa orang muda dapat mempertahankan kelakuan yang bersih ketika firman-Nya menjaga hidup mereka, tetapi dunia kita mengajarnya secara bertolak belakang, yaitu ketika psikologi mengajar mereka tentang makna “hidup”, maka tidak heran, banyak orang muda yang belajar psikologi (tanpa belajar firman-Nya) berakhir tragis, misalnya bunuh diri, stress, dll. Ketika manusia mencoba menemukan makna hidup di luar firman-Nya, manusia tidak pernah menemukannya, karena hidup sejati pasti berpusat kepada Allah dan firman-Nya sebagai Sumber Hidup.

Kedua, hidup yang tidak kuatir. Di dalam Matius 6:25, Tuhan Yesus mengajarkan, “Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?” Hidup manusia sudah ada di tangan-Nya, karena Ia lah yang mengaturnya, tetapi seringkali di dalam hidup, manusia seringkali kuatir akan makanan, minuman, pakaian, dll, mengapa ? Karena mereka diajar bukan kembali kepada Allah, tetapi kembali kepada dirinya sendiri sebagai pusat hidup. Ketika Allah menjadi pusat hidup manusia, maka manusia tidak perlu menguatirkan hidupnya. Perhatikan kalimat terakhir di dalam ayat 25 bahwa hidup itu lebih penting daripada makanan. Mengapa demikian ? Karena kalau kita kekurangan makanan, kita bisa mencarinya kembali, tetapi kalau kita kekurangan makna hidup, bisakah kita mencarinya di dalam dunia ini tanpa kembali kepada Allah ?! TIDAK. Itulah sebabnya mengapa Tuhan Yesus berkata bahwa kita tidak perlu kuatir. Lalu, apa solusi yang Tuhan Yesus berikan agar manusia tidak perlu lagi menguatirkan hidupnya ? Di dalam ayat 31-33, Ia mengajarkan, “Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” Anak-anak Tuhan tidak perlu kuatir, karena kalau mereka kuatir, mereka sama halnya dengan bangsa-bangsa (manusia) yang tidak mengenal Allah. Orang yang hidupnya terus kuatir sebenarnya meragukan kedaulatan dan pemeliharaan Allah di dalam hidupnya. Tetapi tidak berarti dengan menggunakan kalimat ini, lalu kita berkata bahwa kita tidak perlu bekerja, karena semuanya diberikan Tuhan. Itu anggapan yang konyol. Kita tidak perlu kuatir di dalam hidup karena kita percaya bahwa Tuhan itu memelihara hidup anak-anak-Nya dengan berkecukupan, meskipun demikian Tuhan tetap menuntut kita untuk terus bekerja (lihat ayat 34 yang sering dilupakan, “Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.”) Kalau kita tidak perlu kuatir, tidak berarti kita tidak memiliki kesusahan apapun, tetapi Kristus berkata bahwa kesusahan itu masih tetap ada, tetapi biarkanlah kesusahan itu cukup untuk sehari jangan ditambahi dengan kekuatiran yang tidak perlu. Tuhan sangat mengerti benar apa yang diperlukan manusia, sehingga Kristus memerintahkan kita untuk pertama-tama mencari dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, baru setelah itu Ia akan menambahkan berkat-Nya. Jangan menggunakan ayat ini lalu mengajarkan bahwa percaya kepada Tuhan Yesus pasti kaya, diberkati, hidup lancar, dll. Itu bidat/sesat. Ayat 33, kata “akan ditambahkan kepadamu” itu adalah bonus atau akibat setelah kita mempercayakan diri kepada-Nya dengan mencari Kerajaan Allah dan kebenarannya (mengutamakan-Nya sebagai Tuhan dan Raja dalam hidup kita). Jangan sembarangan menafsirkan Alkitab.

Ketiga, hidup manusia sejati adalah hidup seperti anak kecil (rendah hati). Matius 18:1-6 mengajarkan prinsip ini, “Pada waktu itu datanglah murid-murid itu kepada Yesus dan bertanya: “Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga?” Maka Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka lalu berkata: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga. Dan barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku.” “Tetapi barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil ini yang percaya kepada-Ku, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia ditenggelamkan ke dalam laut.” Di sini, Tuhan Yesus menggabungkan konsep “bertobat” dengan menjadi seperti anak kecil. Apa artinya ? Pada waktu itu, para murid sedang berebut kekuasaan ingin menjadi yang terbesar dalam Kerajaan Surga, sehingga Kristus harus menegur mereka dan mengatakan bahwa seorang yang masuk Surga adalah seorang yang bertobat, artinya tidak lagi mementingkan hal-hal duniawi yang merupakan citra manusia lama dan segera memperbaharui hidup dengan mementingkan apa yang Tuhan inginkan. Kedua, setelah bertobat, mereka harus menjadi seperti anak kecil yang memiliki kerendahan hati. Anak kecil meskipun seringkali dihina oleh masyarakat sebagai manusia yang kurang pengalaman, tetapi dipakai oleh Kristus untuk menghina mereka yang katanya sudah berpengalaman, berpendidikan, dll, tetapi sombong dan tidak rendah hati lagi. Yang masuk ke dalam Kerajaan Surga bukan konglomerat, presiden, pembesar negara, pendeta, dll, tetapi mereka yang hidup seperti anak kecil (childlike) yang memiliki kerendahan hati (bedakan dengan childish, yaitu sifat kekanak-kanakan, sifat ini tidak disukai oleh Tuhan). Hidup seperti anak kecil (childlike) adalah hidup yang mulia. Ketika kita belajar hidup menjadi seperti anak kecil, maka kita dapat masuk ke dalam Kerajaan Surga. Orang-orang yang suka menyombongkan diri sebagai “penghuni surga” lalu “bersaksi” bahwa dirinya berkali-kali naik turun “surga”, berhati-hatilah, kalau ia tidak bertobat, mungkin ia nanti pasti menjadi penghuni neraka. Tidak berarti karena kita telah berbuat baik, maka kita masuk Surga. Tolong baik-baik mengerti ayat ini. Kita bisa rendah hati, itu semua karena Roh Kudus yang menggerakkan kita untuk berbuat baik dan rendah hati. Jadi, kembali, anugerah Allah yang mendahului semua respon manusia, baru setelah anugerah ini dinyatakan, Allah pula lah yang mengaktifkan kehendak manusia untuk berbuat baik bagi kemuliaan-Nya.

Keempat, hidup manusia sejati adalah hidup kudus. Kekudusan hidup diajarkan oleh Tuhan Yesus di dalam Matius 18:8-9 yang berkaitan dengan penyesatan, “” Hidup sejati adalah hidup yang kudus. Bagi Tuhan Yesus, percuma saja “masuk ke dalam Jika tanganmu atau kakimu menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu masuk ke dalam hidup dengan tangan kudung atau timpang dari pada dengan utuh kedua tangan dan kedua kakimu dicampakkan ke dalam api kekal. Dan jika matamu menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu masuk ke dalam hidup dengan bermata satu dari pada dicampakkan ke dalam api neraka dengan bermata dua.hidup” (TB-LAI) atau “hidup dengan Allah” (BIS) dengan kedua tangan/kaki yang utuh tetapi salah satu berbuat dosa, lebih baik hidup dengan Allah dengan sebelah tangan/kaki. Ayat ini jangan ditafsirkan dengan sembarangan. Saya sempat membaca ada seorang pria Katolik di Filipina setelah membaca ayat ini lalu memotong kaki dan tangannya. Ini namanya penafsiran Alkitab terlalu harafiah. Itu salah.

Kelima, hidup yang rela membayar harga demi Kristus. Di dalam Matius 19:29, Tuhan Yesus mengajarkan, “Dan setiap orang yang karena nama-Ku meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, bapa atau ibunya, anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal.” Orang-orang dunia pasti kesulitan membaca ayat ini, karena mereka pasti berpikir bahwa kalau kita kehilangan sesuatu, pasti kita tidak bisa hidup. Tetapi tidak demikian, Tuhan kita Yesus Kristus mengajarkan hal yang paradoks yang bertentangan dengan pola pikir kita. Kristus mengatakan bahwa justru ketika berani membayar harga demi nama Kristus, maka di saat itulah kita nantinya akan mendapatkan kemuliaan kekal dan hidup sejati (kata “hidup sejati” ditambahkan di dalam Alkitab BIS. Roma 8:18-21 sungguh menguatkan kita ketika kita di dalam bahaya penderitaan karena nama Kristus, “Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita. Sebab dengan sangat rindu seluruh makhluk menantikan saat anak-anak Allah dinyatakan. Karena seluruh makhluk telah ditaklukkan kepada kesia-siaan, bukan oleh kehendaknya sendiri, tetapi oleh kehendak Dia, yang telah menaklukkannya, tetapi dalam pengharapan, karena makhluk itu sendiri juga akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan dan masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah.” Inilah pengharapan anak-anak Tuhan di mana mereka akan menerima mahkota kemuliaan setelah mereka menderita aniaya. Itulah paradoks. Hidup sejati adalah hidup yang rela menyangkal diri sendiri dan hidup 100% bagi Kristus. Ini tidak berarti kita harus menjadi pendeta lalu meninggalkan profesi kita. Tidak ! Hidup yang 100% bagi Kristus adalah hidup yang men-Tuhan-kan Kristus di dalam hidupnya, mungkin hidup itu terasa sulit, kita akan diejek sok suci, sok religius, dll, tetapi kita harus setia untuk tetap men-Tuhan-kan Kristus, karena di dalam Dialah ada hidup sejati (Yohanes 1:4 ; 14:6).

Keenam, hidup sejati adalah hidup yang beriman. Di dalam Yohanes 3:15-16, Tuhan Yesus bersabda, “supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal. Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Alkitab BIS mengartikannya, “supaya semua orang yang percaya kepada-Nya mendapat hidup sejati dan kekal. Karena Allah begitu mengasihi manusia di dunia ini, sehingga Ia memberikan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan mendapat hidup sejati dan kekal.”) Sungguh menarik, kedua ayat ini. Seringkali kita mengaitkan kedua ayat ini hanya untuk mengungkapkan kasih Allah yang begitu besar kepada kita. Itu tidak salah. Tetapi ayat ini juga bisa mengajarkan tentang makna hidup yang sejati hanya ada ketika kita beriman di dalam Kristus yang berinkarnasi menebus dan menyelamatkan manusia yang berdosa. Di dalam iman itulah kita bisa menemukan hidup. Sebagaimana Roma 1:17b mengatakan, “Orang benar akan hidup oleh iman.” (TB-LAI) atau “Orang yang percaya kepada Allah sehingga hubungannya dengan Allah menjadi baik kembali, orang itu akan hidup!” (BIS) Orang dunia seringkali membalik konsep ini dan mengatakan bahwa orang hidup itu harus beriman, tetapi Alkitab dengan konsepnya yang pasti dapat dipercaya mengatakan bahwa justru ketika beriman di dalam Kristus, manusia pilihan-Nya bisa hidup. Mengapa demikian ? Karena hidup sejati adalah hidup yang terlebih dahulu beriman di dalam-Nya dengan menyerahkan seluruh keberadaan hidup kita kepada-Nya dan menjadikan-Nya sebagai Tuhan dan Raja di dalam hidup kita. Ketika kita percaya kepada sesuatu, di situ kita berani menyerahkan apapun kepada yang kita percayai. Demikian juga kita percaya di dalam-Nya, maka kita juga rela menyerahkan apapun yang ada pada diri kita untuk dikuasai oleh-Nya, karena kita percaya bahwa Allah itu adalah Allah yang Mutlak dan pasti dapat dipercayai.

Terakhir, hidup sejati adalah hidup yang berpengharapan dan menuju kepada kekekalan. Hal ini diajarkan oleh Tuhan Yesus di dalam Yohanes 10:27-28, “Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku, dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku.”, Yohanes 11:25,26, “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya.” dan Yohanes 12:25, “Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal.” Di dalam Yohanes 12:25, Alkitab BIS mengartikan dengan lebih jelas, “Orang yang mencintai hidupnya akan kehilangan hidupnya. Tetapi orang yang membenci hidupnya di dunia ini, akan memeliharanya untuk hidup sejati dan kekal.” Apakah dengan ayat ini, kita harus bersama-sama membunuh tubuh jasmani kita supaya kita bisa hidup kekal ? Lalu, apakah kita tidak boleh mencintai diri kita ? TIDAK. Kata “mencintai nyawanya” itu dari bahasa aslinya dapat diartikan mengasihani diri atau menganggap diri berguna, hebat, dll, sehingga ketika kita berlaku demikian, maka justru yang terjadi bukan kita semakin hidup, tetapi malahan kita semakin kehilangan nyawa atau makna hidup sejati kita. Sebaliknya, ketika kita membenci (tidak mencintai) nyawa kita (atau dapat diterjemahkan menyangkal diri kita—bandingkan Matius 16:24), maka yang didapat bukan kehilangan nyawa tetapi kita akan menerima dan menemukan makna hidup sejati dan kekal. Ini namanya paradoks. Dunia kita tidak akan mengerti konsep ini sampai suatu saat Roh Kudus mencerahkan pikirannya. Puji Tuhan, kita adalah salah satu dari antara mereka yang boleh mendapatkan anugerah Tuhan. Inilah indahnya menjadi orang Kristen dapat mengerti paradoks. Hidup sejati adalah hidup yang terus menuju kepada pengharapan akan kekekalan. Akibatnya, di dalam hidup ini, kita tidak perlu dipusingkan dengan hal-hal yang tidak penting, misalnya kekayaan duniawi, kedudukan yang dihormati, dll, itu semua sampah, sama seperti yang diungkapkan Paulus bahwa pengenalannya akan Kristus membuat dia rela menganggap sampah pada semua yang ia anggap kebanggaan pada masa dulunya. Beranikah kita seperti Paulus menganggap sampah semua kemegahan dan kehebatan dunia yang berdosa ini lalu kembali hidup yang berfokus kepada pengharapan akan kekekalan ? Renungkanlah.

Setelah kita merenungkan ketujuh poin makna hidup menurut ajaran Tuhan Yesus, sudahkah kita berani menentukan fokus hidup sejati yaitu kepada dan di dalam Kristus itu sendiri ? Biarlah kita mulai mengambil keputusan untuk segera men-Tuhan-kan Kristus di dalam hidup kita dan menentukan tujuan hidup kita berpijak dari firman Allah, bergantung kepada pimpinan Roh Kudus dan murni untuk memuliakan-Nya selama-lamanya. Soli Deo Gloria. Amin.

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 19 Mei 2009 in KARYA TULIS, REFERENSI, RENUNGAN

 

Tag: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

KADANGKALA HIDUPMU MENANGIS

> > Kadangkala hidup mengharuskanmu menangis tanpa sebab. Kamu merasa sudah berbuat baik dan benar, tetapi masih banyak kritikan yang dialamatkan kepadamu. Kamu mengira keputusan yang kamu ambil sudah tepat, ternyata perkiraanmu keliru.
> > Jangan putus asa !! Bangkitlah !!
> > Matahari tanpa sinar tidak layak disebut matahari. demikian juga dirimu. kau adalah matahari yang seharusnya memancarkan sinar, sekalipun mendung kelabu menutupi pandangan orang untuk melihat keindahan cahayamu.
> > AKU sering melihat melihatmu marah ketika kamu melihat orang lain berhasil.
> > Untuk apa kamu menginginkan keberhasilan orang lain?
> > Bukankah AKU sudah menyediakan suksesmu sendiri?
> > Kamu tidak pernah mengejarnya, jadi kamu tidak pernah bisa memilikinya.
> > Matamu tidak terfokus kepada rancangan-Ku yang dahsyat atas hidupmu, melainkan tertuju kepada karya-Ku yang luar biasa atas hidup orang lain.
> > Jadilah seperti air..Selalu mengalir…melewati semua benda, menembus semua sisi dan tanpa batas.
> > Anak-Ku,,,jangan mau dikalahkan oleh keadaan,,tetapi kalahkan keadaaan !!
> > Anak-Ku yang terkasih,,,jangan sakit hati ketika kau ditegur, padahal kau merasa sudah mengerjakan yang terbaik.
> > Sakit hati itu hanya akan membuat tidurmu tidak nyenyak dan perasaanmu tidak nyaman.
> > Buanglah itu dari hatimu dan pikiranmu !
> > Kuasailah dirimu sedemikian rupa hingga kamu bisa mengatasi perasaan diperlakukan tidak adil, dilecehkan, diremehkan ataupun dikhianati oleh sesamamu.
> > Bukankah untuk itu kau hidup? untuk melihat kenyataan bahwa di dunia ini yang paling mengerti perasaanmu dan menerima dirimu apa adanya hanya AKU?
> > Jauhilah segala bentuk kemarahan, tetapi jangan jauhi AKU.
> > Anak-Ku, ingatlah hal ini baik-baik. Aku selalu mebuka tangan-Ku lebar-lebar untuk memberimu rasa aman, kapanpun kau membutuhkannya.
> > AKU senantiasa menyiapkan bahu untuk tempat kepalamu bersandar dan mencurahkan tangis.
> > AKU melakukannya karena AKU sungguh-sungguh peduli padamu !!
> > Ayah yang selalu mengasihimu, ,
> > YESUS

> Original message from N’cy:
> n from http://profiles.friendster.com/user.php?uid=23358804

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada 1 Mei 2009 in RENUNGAN

 

Tag: , , , , , ,

MASA DEPAN PENEGAKAN HUKUM DI INDONESIA *)

Morality cannot be legislated, but behavior can be regulated.

• Martin Luther King Jr.

Bung Karno sebagai Presiden RI pernah mencela para sarjana hukum dengan mengatakan secara terus terang dan terbuka bahwa “Met de juristen kunnen wij geen revolutie maken”. Dialihbahasakan dari bahasa Belanda : “Dengan para sarjana hukum kami tidak bisa membuat revolusi”. Beliau juga mengritik para sarjana hukum yang katanya terlalu berpikir berdasarkan buku teks (textbook thinking). Meskipun ucapan Bung Karno tidak seluruhnya benar sebab konseptor UUD 1945 adalah seorang sarjana hukum Indonesia yang bernama Mr.Dr. R. Soepomo. Soepomo adalah seorang yang “brilian” (pandai sekali) sebab Read the rest of this entry »

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 27 April 2009 in MATERI KULIAH, REFERENSI, SEBAIKNYA ANDA TAU!

 

Tag: , , , , , , , , , , , , , , , , ,

MEMPERKENALKAN ALLAH YANG BENAR KISAH 17:22-34**

PENGANTAR

1. Seberapa seringkah Anda memperkenalkan Yesus kepada mereka yang terhilang atau kepada mereka yang belum mengenal Yesus sebagai Allah yang benar dan satu-satunya Juru selamat manusia?
2. Tahukah Anda bahwa ada tiga hakekat dan panggilan utama Gereja (umat Allah):
• Untuk menyembah Allah (Worshipping Community )
• Untuk menyelamatkan dunia (The Community of the Sent)
• Untuk memelihara, mengajar dan melatih jemaat (Nurturing Mother)
3. Di Kisah Para Rasul 17:22-34 dokter Lukas menceritakan tentang bagaimana Rasul Paulus selalu menggunakan setiap kesempatan untuk memberitakan Injil (Kabar Baik).

I. MEMPERKENALKAN ALLAH YANG BELUM
DIKENAL (KISAH 17:22-29)

1. Pendengarnya adalah orang-orang yang telah beribadah (17:22)
2. Pemberitaan tentang Allah yang tidak dikenal (17:23-29)

II. MENANTANG PENDENGARNYA UNTUK
BERTOBAT (KISAH 17:30-32)

1. Semua manusia harus bertobat (17:30)
2. Allah pasti menghakimi dunia melalui Kristus Yesus
(17:31)

III. TANGGAPAN PENDENGAR INJIL (KISAH 17:32-34)

1. Dia diejek dan ditolak oleh sebagian pendengarnya (17:32)
2. Sebagian pendengarnya menggabungkan diri dan percaya kepada pemberitaannya (17:34)

IV. KESIMPULAN DAN APLIKASI
1. Marilah kita hidup sesuai dengan hakekat dan panggilan kita sebagai umat Allah yang: Menyembah Allah, Memberitakan Kabar Baik dan Melatih orang lain.

2. Lihatlah sekeliling kita dan pakailah setiap kesempatan untuk memberitakan Kabar Baik.

3. Mintalah urapan Roh Kudus untuk menunjukkan jalan kepada mereka yang terhilang, cara untuk Bersaksi, dan Keberanian untuk menantang pendengar kita untuk bertobat dan menerima Yesus sebagai Juru Selamat dan Tuhan mereka.

** (Oleh: Rev. Agustinus Titi)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 20 April 2009 in RENUNGAN, TENTANG ALKITAB

 

Tag: , , , , ,

SEBUAH SURAT KASIH …

Kadangkala hidup mengharuskanmu menangis tanpa sebab.
Kamu merasa sudah berbuat baik dan benar, tetapi masih banyak kritikan yang dialamatkan kepadamu. Kamu mengira keputusan yang kamu ambil sudah tepat, ternyata perkiraanmu keliru.

Jangan putus asa !! Bangkitlah !!

Matahari tanpa sinar tidak layak disebut matahari. demikian juga
dirimu. kau adalah matahari yang seharusnya memancarkan sinar,
sekalipun mendung kelabu menutupi pandangan orang untuk melihat
keindahan cahayamu.

AKU sering melihatmu marah ketika kamu melihat orang lain berhasil.
Untuk apa kamu menginginkan keberhasilan orang lain?

Bukankah AKU sudah menyediakan suksesmu sendiri?
Kamu tidak pernah mengejarnya, jadi kamu tidak pernah bisa memilikinya.

Matamu tidak terfokus kepada rancangan-Ku yang dahsyat atas hidupmu, melainkan tertuju kepada karya-Ku yang luar biasa atas hidup orang lain.

Jadilah seperti air..Selalu mengalir…melewati semua benda, menembus semua sisi dan tanpa batas.

Anak-Ku,,,jangan mau dikalahkan oleh keadaan,,tetapi kalahkan keadaaan !!

Anak-Ku yang terkasih,,,jangan sakit hati ketika kau ditegur, padahal
kau merasa sudah mengerjakan yang terbaik.

Sakit hati itu hanya akan membuat tidurmu tidak nyenyak dan perasaanmu tidak nyaman.

Buanglah itu dari hatimu dan pikiranmu !

Kuasailah dirimu sedemikian rupa hingga kamu bisa mengatasi perasaan
diperlakukan tidak adil, dilecehkan, diremehkan ataupun dikhianati
oleh sesamamu.

Bukankah untuk itu kau hidup? untuk melihat kenyataan bahwa di dunia
ini yang paling mengerti perasaanmu dan menerima dirimu apa adanya
hanya AKU?

Jauhilah segala bentuk kemarahan, tetapi jangan jauhi AKU.
Anak-Ku, ingatlah hal ini baik-baik. Aku selalu membuka tangan-Ku
lebar-lebar untuk memberimu rasa aman, kapanpun kau membutuhkannya.
AKU senantiasa menyiapkan bahu untuk tempat kepalamu bersandar dan mencurahkan tangis.
AKU melakukannya karena AKU sungguh-sungguh peduli padamu !!

Bapa yang selalu mengasihimu, ,

YESUS

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 13 April 2009 in RENUNGAN

 

Tag: , , , , , , , , , , ,