RSS

Arsip Kategori: SEKITAR KITA

Warna Persahabatan

Di suatu masa warna-warna dunia mulai bertengkar Semua menganggap dirinyalah yang terbaik yang paling penting yang paling bermanfaat yang paling disukai HIJAU berkata:”Jelas akulah yang terpenting. Aku adalah pertanda kehidupan dan harapan. Aku dipilih untuk mewarnai rerumputan, pepohonan dan dedaunan. Tanpa aku, Read the rest of this entry »

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada 9 November 2009 in CUCI OTAK, RENUNGAN, SEKITAR KITA

 

Tag: , , , , , , , , , ,

AKIBAT MENGADAKAN HUBUNGAN SEKS SEBELUM PERNIKAHAN**

PMKuncen :: Seks berasal dari Allah dan diberikan kepada manusia dengan tujuan untuk dinikmati dan mengusahakan keturunan dalam perkawinan. Hal itu berarti bahwa seks harus dilakukan sesuai dengan kehendak Allah, dimana seks hanya dapat dilakukan dimana seks hanya dapat dilakukan oleh suami-isteri yang sah (I Korintus 7:1-5).
Hubungan seks di luar pernikahan sama sekali tidak dibenarkan, melanggar Firman Allah, hukumnya berzinah dan dosa (Keluaran 20:14) patut dihukum, mereka tidak mewarisi kerajaan Allah.

Menurut Robert J. Miles dalam bukunya, Sebelum Menikah Pahami Dulu Seks di katakannya: ada banyak akibat yang ditimbulkan oleh perbuatan seks sebelum pernikahan, antara lain:
1. Akhirnya mereka memaksakan diri untuk cepat-cepat menikah, untuk menghindarkan si bayi dari istilah “Anak Haram”. Jelasnya menanggung resiko besar, merasa malu dengan masyarakat karena pernikahan ini sudah diawali dengan penyimpangan norma-norma perkawinan. Jika para pemuda-pemudi tidak hati-hati dalam mencari dan menetapkan cara hidupnya, mereka akan menjadi korban seumur hidup, dan tidak lepas dari bahaya “Habis Manis Sepah Dibuang”.
2. Anak mereka akan diadopsi oleh pengadilan kepada pasangan yang telah menikah, ini berarti kedua orang tua bebas tanggung-jawab terhadap anak, karena anak tersebut sudah diserah kepada orang lain untuk mengasuh, mengganti kasih dan pemeliharaan. Bukankah hal ini berarti menghilangkan hak seorang anak untuk menuntut kepada orang tuanya sebagai darah daging sendiri.
3. Banyak kali terjadi “Pengguguran atau Aborsi” terhadap bayi yang dikandung karena mereka takut dikeahui oleh oran tua, keluarga, teman, tetangga takut kepada semua orang dan merasa bersalah. Mereka tidak memperhitungkan bahaya pengguguran yang dilakukan, baik oleh dokter maupun dukun, dan bahaya psikologis. Manusia tidak berkuasa atas diri sang bayi. “Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku. Mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan didalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satu pun dari padanya”(Mazmur 139:13,16).
4. Akibat lainnya, seorang ibu yang belum menikah terpaksa harus mengurus sendiri anaknya dengan terus-menerus. Bebannya bertambah, mencari nafkah, mengurus keluarga dan anak. Belum tahu apa jadi kelak jika anaknya sudah menjadi dewasa dan belum pernah melihat ayahnya. Banyak masalah yang harus dihadapi.
Jadi, hubungan seks di luar pernikahan adalah sikap yang kurang bertanggung-jawab dan tidak terpuji, dengan kata lain merampas, mencuri, memperkosa milik orang lain, melakukan yang tidak hormat, tidak sopan, keji, najis dan berdosa. Untuk menghindari terjadinya penyimpangan-penyimpangan tersebut, perlu perhatian orang tua terhadap sang gadis atau jejaka dalam mempersiapkan pernikahan dan hidup keluarga bagi anaknya. Biasanya lebih mudah melepasbebaskan sang ank dari pada melepas binatang piaraan yang dirawat sedemikian rupa dan tidak mengetahui apa yang sedang dilakukan oleh anaknya di luar pergaulan bebas tanpa kontrol, yang hidup melebihi binatang liar.
Orang harus turut bertanggung-jawab, kalau sang calon menantu sudah tidak mengindahkan dan menghormati orang tua, lebih bik jangan diterima. Apalagi selalu membujuk-rayu dan menipu. Tidak perlu kompromi dengan dosa. Lebih baik kehilangan sang pacar dari pada kehilangan kewibawaan orang tua dan diri sendiri di pandangan masyarakat.

Bagaimana seharusnya sikap kita pada masa pacaran,??
a) Saling menghormati. “Kenakanlah Tuhan Yesus sebagai perlengkapan senjata terang dan janganlah merawat tubuh untuk memuaskan keinginannya”(Roma 13:14).
b) Setia kepada Tuhan dan rajin membaca Firman-Nya sebagai perjanjian bagi umat-Nya dan berdoa dengan penuh penyerahan bagi hidup di masa mendatang. Ia akan membuat hidupmu berhasil (Yosua 1:8).
c) Sementara berpacaran janganlah mengharapkan hal-hal seperti ciuman tiap saat, gesekan tubuh yang menimbulkan rangsangan kosong dan menimbulkan hawa nafsu yang akan menjatuhkan kehidupan rohani dan menjauhkan diri kita dari persekutuan dengan Tuhan.
d) Berusaha menghindari pikiran yang negatif dan memikirkan apa yang suci dan baik bagi pemandangan Allah (Filipi 4:8).
e) Membatasi waktu berpergian berdua dan menjauhi tempat yang sepi. “Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik” (I Korintus 15:33).

**Oleh : Ungkhe_Excited
blessingmeukisi.blogspot.com
ath_groovy@yahoo.co.id

 

Tag: , , , , , , , , , ,

PPD UNCEN RESMI JADI FAKULTAS KEDOKTERAN

Jayapura, 17/7 (FINROLL News) – Jurusan Program Pendidikan Dokter (PPD) Universitas Cenderawasih (Uncen), Jayapura, Papua, secara resmi berubah status menjadi Fakultas Kedokteran, Jumat.

Acara peresmian Fakultas Kedokteran tersebut secara langsung dilakukan Gubernur Provinsi Papua, Barnabas Suebu, serta Rektor Uncen, Prof. DR. Berth Kambuaya, MBA, dengan dihadiri unsur Muspida, Lembaga Swadaya Masyarakat serta undangan lainnya, di Jayapura, Jumat.

Gubernur Provinsi Papua, Barnabas Suebu, dalam sambutannya yang dibacakan Asisten I Sekretaris Daerah (Setda) Papua, Ibrahim Is Badarudin, menyambut baik kehadiran Fakultas Kedokteran Uncen sebagai langkah awal meningkatkan kesehatan masyarakat Papua.

“Semoga dengan adanya Fakultas Kedokteran di Papua ini dapat menjadi tonggak perubahan tingkat kesehatan masyarakat Papua,” kata Gubernur.

Ia mengharapkan, kedepannya, Fakultas Kedokteran Uncen dapat menciptakan Sumber Daya Manusia (SDM) Papua yang baik, terutama dalam bidang kesehatan, yang nantinya akan menjadi pelaya masyarakat.

“Dengan tenaga pengajar yang baik serta fasilitas yang memadai, tentu kita bersama menginginkan lulusan Kedokteran yang benar-benar berkualitas di bidangnya,” ujarnya.

Sementara itu, rektor Uncen, Prof. DR. Berth Kambuaya, MBA, mengungkapkan, terwujudnya PPD menjadi Fakultas kedokteran Uncen, tidak terlepas dari kerja keras semua pihak yang telah memperjuangkan pembentukannya.

“Kita sudah mengusulkan kepada adanya Fakultas Kedokteran Uncen ini sejak tahun 2000 pada Direktorat Jenderal (Dirjen) Pendidikan Tinggi serta Menteri Pendidikan, dan akhirnya berhasil terealisasi,” kata Berth.

Lebih lanjut, kata Berth, pihaknya akan terus berupaya meningkatkan mutu lulusan Fakultas Kedokteran agar saat kembali bertugas ditengah masyarakat dapat berbuat yang terbaik.

“Untuk lulusannya harus bisa menjadi orang yang berguna dan selalu siap membantu masyarakat,” lanjutnya. (PSO-126/17/07/2009)

 
13 Komentar

Ditulis oleh pada 17 Juli 2009 in BERITA, INFO UNCEN, SEKITAR KITA, SEPUTAR PAPUA

 

Yerry dan Pendidikan Asrama


Sudah menjadi rahasia umum kalau mutu pendidikan di Papua secara umum sangat rendah. Sulit mencari sekolah dasar atau menengah yang terpencil dari kota tapi memiliki perangkat pendidikan yang memadai dan pendidikan bisa berjalan normal. Seringkali ada gedung sekolah, tapi guru-guru sibuk ke kota. Ada guru-guru tapi murid-muridnya kabur. Ada guru dan murid tapi sarana dan kesejahteraan guru diabaikan. Selalu saja ada yang membuat proses belajar-mengajar terganggu. Dan tentu saja ide dan upaya peningkatan kualitas belum sempat dinikmati hingga hari ini meskipun Papua sudah menikmati dana Otsus sejak 2002.

Bagaimana memperbaiki pendidikan di Papua dengan dana Otsus yang sangat berlimpah? Kalau ada anggaran cukup, guru bisa digaji baik, dan gedung sekolah serta fasilitas lainnya bisa dipenuhi, paradigma dan metode apa yang tepat meningkatkan kualitas manusia Papua melalui pendidikan formal? Yang masih dipercaya oleh banyak pendidik di Papua sekarang ini adalah pendidikan berpola asrama. Banyak intelektual Papua terkemuka sekarang ini adalah produk sekolah-sekolah berasrama.

Ketika penelitian di Hepuba Wamena pada 1993, saya biasa iseng menggendong bayi bernama Yerry Wetapo. Ketika ngobrol dengan bapaknya, Dam Wetapo, kami biasa membahas pendidikan dan masa depan Yerry. Ketika, tiga belas tahun kemudian, saya kembali ke kampung Yerry, Yerry sudah besar dan hampir kelas dua SMP. Yang mengejutkan dan mengharukan, anak ini memiliki niat dan semangat yang kuat untuk bersekolah ke Jawa. Dia ingin saya membawanya ke Jawa agar bisa mendapatkan pendidikan yang lebih baik di sana.

Pada 2006 itu saya masih takut membawanya karena saya cuma peneliti pegawai negeri dengan gaji kecil pas-pasan. Namun selama setahun, Yerry mengganggu perasaanku terus. Oleh karenanya pada 2007 saya putuskan untuk membawa Yerry ke Bogor. Dengan persetujuan keluarga dan dukungan teman-teman di Jayapura dan di Jakarta, terutama Riella Rusdiarti, Yulia Sugandi dan Anang Noor, kami sepakat share biaya transport dan sekolah Yerry. Karena kebaikan hati Uskup Bogor Mgr Michael Angkur pula, Yerry bisa lolos masuk SMPK berasrama Mardi Yuana di Sindanglaya Cipanas.

Mengapa Yerry harus dibawa ke Jawa? Kesenjangan mutu sekolah antara di Papua dan di Jawa sangat menyedihkan. Contohnya, setelah tes, sekolah baru Yerry memutuskan agar Yerry mengulang di kelas 1 padahal di sekolah lamanya, dia bisa naik ke kelas 2 dengan nilai baik. Membawa Yerry ke Jawa tentu tidak mengubah situasi pendidikan di Papua, tapi setidaknya memberi pendidikan yang lebih baik pada satu anak Papua akan bisa mengubah sesuatu di masa depan.

Mengapa Yerry harus dikeluarkan dari lingkungan keluarga dan kampungnya? Mengamati situasi pendidikan dan sosial saudara-saudaranya dan kebiasaan buruk masyarakatnya di Wamena, dipastikan Yerry tidak akan bisa melanjutkan pendidikannya dengan baik. Alkoholisme, seks bebas, disiplin sekolah yang rendah, dan kemiskinan, tidak akan membuat Yerry dengan mudah meneruskan sekolah, kecuali Yerry memang jenius dan kuat menentang arus. Yerry hanyalah anak biasa, tidak jenius dan tidak sepenuhnya menentang arus. Tapi dia masih punya semangat untuk sekolah dan memiliki cita-cita. Itu lebih dari cukup.

Mencabut Yerry dari keluarganya dan membawanya ke Jawa untuk sekolah tentu tidak menyelesaikan masalah pendidikan di Papua. Tapi setidaknya kita menabung untuk masa depan. Setidaknya akan ada seorang Yerry yang sekolahnya baik seperti anak-anak lainnya di Indonesia. Mungkin kelak dia akan masuk universitas dan menjadi salah satu intelektual terkemuka di Papua. Atau mungkin dia akan menjadi seorang profesional yang bisa bersaing dengan orang Indonesia terdidik lainnya.

Banyak Yerry-Yerry lain di Makassar, Surabaya, Semarang, Yogyakarta, Jakarta, dan lain-lain. Semoga ini baik untuk Papua yang lebih baik, berkeadilan dan damai di masa depan…Tentu kita harus terus membantu agar kondisi pendidikan di Papua diperbaiki.( Muridan S. Widjojo )

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 24 November 2008 in SEKITAR KITA