RSS

Riset Uncen Kurang, Publikasi Mandek

16 Sep

JUBI— Penelitian dan publikasi hasil riset yang dilakukan Universitas Cenderawasih (Uncen) terkendala banyak hal. Tidak saja dipicu oleh kurangnya tenaga dosen, tapi juga lantaran tiadanya dana publikasi.

Mathius Salossa SH, M.Hum, Dekan Fakultas Hukum Universitas Cenderawasih (Uncen) kepada JUBI, Kamis pekan kemarin di Waena, Abepura, Jayapura, mengatakan, secara khusus di Uncen, dosen selalu mengesampingkan penelitian. Dosen lebih mengutamakan mengajar ketimbang penelitian. Hal itu dipicu minimnya tenaga dosen. Minimnya lembaga riset di Papua dan keraguan atas Uncen, juga semakin menutup peluang untuk melaksanakan penelitian. “Selama ini yang dapat kita lakukan hanya sebatas seminar dan sosialisasi saja,” katanya.
Dia mengatakan, di Uncen, ada tiga doktor di bidang sumberdaya alam yang mempunyai nilai kelulusan yang begitu baik. “Namun saya kaget karena mereka lebih mengejar jabatan seperti Dekan, daripada melakukan penelitian”. Salossa mengatakan, lembaga-lembaga penelitian diluar Uncen juga belum dapat diandalkan. Lembaga penelitian tersebut kerap melakukan penelitian tidak serius dan mendalam. “Lembaga dari luar juga ada yang sudah melakukan MoU dengan Uncen tapi tidak pernah ada penelitian yang dilakukan.”
Baginya, penelitian untuk masalah lingkungan hidup mungkin bisa saja dilakukan orang luar, tetapi jika dikaitkan dengan adat istiadat, budaya, kemiskinan dan masyarakat, harusnya Orang Papua yang melakukannya. Karena mereka lebih mengetahui seluk beluk Papua. “Oleh karena itu kita tidak bisa mengandalkan orang luar untuk melakukan penelitian yang mendalam jika kita tidak melibatkan peneliti yang ada di Papua,” kata Salossa
Senada dengan Salossa, Pengamat Politik Uncen, Drs. Naffi Sanggenafa, M.Si sekaligus anggota riset Uncen kepada JUBI saat ditemui di Hotel Relat Kotaraja, akhir Agustus kemarin mengatakan, sebenarnya, sudah banyak tesis dan disertasi yang dilakukan namun hasilnya kurang diperhatikan dan dipublikasikan. “Ada banyak riset yang kita buat tapi kita belum publikasikan ke masyarakat umum,” ujar Sanggenafa.
Sejumlah riset terdiri dari banyak sisi yang sudah diteliti. Diantaranya kultur atau budaya Papua. Riset tersebut tak dipublikasikan karena kurangnya sarana pendukung. Dia menambahkan, pihaknya juga memiliki sejumlah dokumen penting terkait sejarah lahirnya Papua. Dokumen tersebut masih disimpan. Menurutnya, sejumlah dokumen perlu dipublikasikan, namun ada juga yang tidak. “Sebenarnya Uncen punya banyak hasil penelitian tapi tidak dipublikasikan,” tukasnya. Menurutnya, dengan adanya Lembaga Riset di Papua tentu akan memberikan peluang bagi para peneliti untuk menyampaikan hasil penelitiannya. Hal ini juga akan memperluas pekerjaan penelitian dan investigasi di Papua.
Dosen Antropologi Uncen ini juga menjelaskan, lembaga riset akan mengarah pada hal-hal spesifik dengan tiga tujuan penting. Pertama, riset yang terkait dengan masalah-masalah di Papua. Kedua, pengumpulan bahan-bahan yang terkait dengan Papua dan ketiga, memberikan peluang bagi para Peneliti Asal Papua untuk memberikan hasil penelitiaannya. Dengan begitu, kata dia, siapa saja bisa memberikan masukan mengenai penelitian-penelitian yang bisa mendukung pengembangan Papua ke depan. Tak hanya itu, Riset Center Papua juga akan memfasilitasi para peneliti. “Jadi Orang Papua yang ingin adakan penelitian mengenai Papua bisa langsung koordinasi dengan lembaga ini,” tukasnya.
Dari sejumlah penelitian yang dibuat Uncen, sangat sedikit memang yang diketahui publik. Salah satunya penelitian Uncen di Mimika yang terbukti menunjukan sedimentasi yang signifikan atas operasi PT Freeport selama ini. Hasil penelitian dampak lingkungan di Kabupaten Mimika ini merupakan kajian atas studi kasus di Muara Ajikwa, Tipoeka dan Minajerwi. Uncen melakukan rizet sejak November 2008.
Ketua Lembaga Penelitian Uncen, Ferdinan SD kepada wartawan di Aula FKIP Uncen, Februari kemarin mengatakan, yang menjadi latar belakang dilakukannya penelitian di tiga wilayah tersebut adalah telah terjadi sedimentasi yang semakin tinggi. “Kami dari Uncen ingin membuktikan apakah hal itu benar terjadi. Kemudian muncul persoalan seperti rusaknya ekosistem disana, kita juga ingin membuktikan apakah itu benar atau tidak,” ujar Ferdinan.
Hasil penelitian tersebut diharapkan dapat memberikan solusi terbaik untuk tiga muara itu. “Dari hasil penelitian kami, bahwa memang benar telah terjadi sedimentasi yang tinggi pada muara tersebut”. Laporannya bahkan telah dimasukkan ke pihak terkait. “Melalui forum ini, saatnya kita saling memberikan masukan namun ternyata belum bisa dilakukan karena ada penundaan waktu,” katanya.
Selain penelitian tentang sedimentasi yang signifikan di Timika, Uncen juga telah melakukan banyak penelitian lain. Dalam beberapa penelitian, rizet pernah dilakukan terkait budaya dan adat istiadat di Papua. Seperti dilakukan Uncen, Kepala Balai Arkeologi Jayapura, Drs. M. Irfan Mahmud, M.Si di Jayapura, mengatakan, dengan kondisi budayanya yang beragam, wilayah Papua dan Papua Barat memang menjadi tempat yang ideal untuk kegiatan penelitian bertema etnoarkeologi. Penelitian etnoarkeologi penting untuk mengetahui sejarah perkembangan budaya masyarakat mulai jaman pra sejarah hingga sekarang.
Etnoarkeologi merupakan salah satu cabang dari ilmu arkeologi yang mempelajari sisi etnik atau perkembangan budaya dari suatu masyarakat berdasarkan bukti-bukti peninggalan berupa artefak. Jika merujuk pada jumlah bahasa daerah yang masih digunakan di wilayah Papua, jumlah etnik yang menempati pulau ini mencapai 250 suku.
Sementara itu, sebagian besar bahkan hampir seluruh etnik masyarakat ini masih melakukan beberapa aktivitas yang sama atau mirip dengan nenek moyang mereka beberapa generasi silam. Misalnya kegiatan bercocok tanam menggunakan alat-alat cangkul sederhana yang belum tersentuh teknologi tinggi yang sampai saat ini masih dikerjakan masyarakat di daerah pegunungan. Selain itu, ada pula aktivitas menokok atau mengolah sagu yang dilakukan masyarakat yang tinggal dekat daerah pesisir.

Hasil Akhir Penelitian
Hasil akhir dari suatu studi atau penelitian minimal akan berbentuk suatu dokumen atau karya tulis. Dokumen atau karya tulis hasil studi/penelitian tersebut akan menjadi bagian dari kepustakaan atau literatur yang diharapkan dapat bermanfaat bagi para pencari informasi. Mengingat tidak semua karya tulis hasil penelitian dapat diterbitkan –digandakan dalam jumlah besar dan disebarluaskan kepada masyarakat secara formal – maka dokumen hasil penelitian yang tidak diterbitkan tersebut hampir dapat disebut sebagai dokumen atau kepustakaan kelabu (grey literature), dokumen yang tidak jelas karena tidak bisa diakses oleh banyak pengguna.
Kekelabuan dokumen hasil penelitian tidak berarti dokumen tersebut tidak memiliki nilai informasi yang tinggi. Sebaliknya, dokumen hasil penelitian justru merupakan salah satu kepustakaan primer yang penting karena mengkomunikasikan hasil-hasil temuan baru. Oleh karena itu dokumen-dokumen kelabu tersebut perlu dikelola sedemikian rupa untuk dapat diakses oleh sebanyak mungkin pengguna. Salah satu cara yang dewasa ini digunakan untuk mengelola dokumen kelabu adalah dengan mentransfernya ke dalam bentuk digital, sehingga terbangunlah suatu sistem kepustakaan dan perpustakaan digital (digital library).
Pada tahap awal, pendigitasian dokumen kelabu tersebut dilakukan secara offline yakni pada jaringan komputer lokal masing-masing. Namun pada tahap selanjutnya dokumen yang telah terdigitasi tersebut akan dapat dipasang (upload) pada jaringan komputer global internet dengan alamat situs http://www.digilib.%5BnamaPTN/PTS%5D.ac.id, sehingga dokumen karya tulis setempat itu pun dapat diketahui, dipelajari, dan dimanfaatkan oleh warga masyarakat lainnya.
Dewasa ini sekitar 300 judul laporan penelitian Uncen telah didigitasikan dalam program perpustakaan digital GDL Uncen pada UPT Perpustakaan dengan alamat situs offline: digilib.uncen.ac.id, walaupun belum seluruhnya tersedia dalam teks lengkap (full text). (JUBI/MA/YP )

 
 

Tag: , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: