RSS

MASA DEPAN PENEGAKAN HUKUM DI INDONESIA *)

27 Apr

Morality cannot be legislated, but behavior can be regulated.

• Martin Luther King Jr.

Bung Karno sebagai Presiden RI pernah mencela para sarjana hukum dengan mengatakan secara terus terang dan terbuka bahwa “Met de juristen kunnen wij geen revolutie maken”. Dialihbahasakan dari bahasa Belanda : “Dengan para sarjana hukum kami tidak bisa membuat revolusi”. Beliau juga mengritik para sarjana hukum yang katanya terlalu berpikir berdasarkan buku teks (textbook thinking). Meskipun ucapan Bung Karno tidak seluruhnya benar sebab konseptor UUD 1945 adalah seorang sarjana hukum Indonesia yang bernama Mr.Dr. R. Soepomo. Soepomo adalah seorang yang “brilian” (pandai sekali) sebab beliau lulus SH (Mr) dan Doktor (Doctor in de rechten) sekaligus di Leiden (Belanda) dalam waktu 3 (tiga) tahun saja. Namun melihat keadaan dewasa ini di mana KKN merajalela dengan dahsyat dari Sabang sampai Jayapura, adanya mafia peradilan tanpa rasa malu di seluruh tingkat peradilan khususnya di Kejagung akhir-akhir ini, keadaan perundang-undangan yang amburadul karena terlalu banyak “politicking” di Senayan, penegakan hukum yang serba kacau karena rekayasa uang, maka kemungkinan besar Bung Karno, jika beliau masih hidup, beliau akan men-“donder” (membentak) dengan suara menggelegar bahwa “met de juristen kunnen wij de corruptie niet uitroeien”, alias dengan para penegak hukum/sarjana hukum kami tidak bisa membasmi bersih KKN (korupsi). Dalam hal ini Presiden Sukarno kalau masih hidup adalah benar sekali, dengan catatan bahwa korupsi pada waktu itu mulai merambat di bawah meja. Kini KKN ditawar menawar di atas meja atau melalui telepon. Semua profesi sudah terkontaminasi. Bahkan tidak ada moral dan etika lagi. Kalau ada itu bisa dinamakan “etika situasi”. Praktis tidak ada “political will” dan “determination” serta komitmen dari para penguasa. Bahkan ada kesan “tuhan” bisa dibeli. Gereja dan Hamba-Hamba Tuhan seperti terperangkap dalam Roma 13:1-7 dan ada Hamba-Hamba Tuhan yang mau menjadi “politikus”. Ada pula yang mau jadi “politisi”.
Perikop Roma 13:1-7 dijadikan dasar pembenar atau alasan pemaaf. Bayangkan PGI membawa emas tidak ke “kandang Bethlehem” melainkan ke istana Nero di Jalan Cendana. PGI dan Gereja-Gereja seperti tidak mau belajar dari sejarah Gereja di zaman Nazi/Hitler di Jerman. Mereka seperti tidak tahu atau lupa kepada seorang Hamba Tuhan (Bonhoefer) yang konsisten dan konsekuen di zaman Hitler yang kemudian mati di kamp Nazi. Orang-orang berseragam dan bersepatu bot juga ikut bikin kacau, apalagi di zaman Orde Baru. Dengan perkataan lain korupsi juga dilakukan oleh bukan sarjana hukum saja. Korupsi bukan tidak bisa dibasmi bersih, tetapi karena moral dan mental (hati nurani) orang Indonesia, meskipun tidak semua, seperti ungkapan bahasa Belanda “de uitzonderingen bevestigen de regal” alias masih ada perkecualian, yaitu yang bermoral, bermental, berintegritas dan memiliki hati nurani.
Sulit diberantasnya KKN karena para pemimpin bangsa dan negara mulai dari yang tertinggi sampai yang terendah praktis di seluruh Nusantara sudah rusak mental dan moralnya sudah bobrok karena mereka seperti tidak lagi memiliki hati nurani. Mereka adalah hipokrit. Tidak ada “political will” dan implementasinya setengah hati saja. Mereka lupa bahwa “Always integrity, never popularity” (Jesus and Politics. Confronting the powers, Alan Storkey, 2005:151) Juga di zaman VOC korupsi bukan hal langka. Ambruknya VOC juga karena korupsi. Kalaupun ada perkecualian dapat dihitung dengan jari. Sebagian kecil takut buka mulut karena sakit gigi, sebagian lagi bersikap masa bodoh, sebagian lagi menganggap percuma, bahkan kalau lapor ada KKN maka dijebloskan oleh polisi atau jaksa, karena korupsi sudah seperti ikan busuk dan bau busuk tidak di ekor ikan busuk tetapi di kepala ikan busuk. Jadi hancurnya bangsa dan negara ini soal waktu saja kalau keadaan seperti sekarang ini berlaku terus. Lalu ada pertanyaan : dari mana akan dimulai? Jawab saya dengan singkat lagi tegas: dari diri sendiri terlebih dulu. (Ingat Lukas 16:10).
Meskipun diakui tanpa rasa malu bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang religius, ternyata agamanya cuma “skin deep” alias di kulit luar saja. Perilakunya agamais, tetapi hati nuraninya sudah busuk dan karena itu sudah sulit untuk berfungsi, meskipun selalu ada perkecualian. Para koruptor ini seperti “rai gedek”, tidak malu mempertontonkan kekayaan yang dikorupsi, bahkan bangga mempertontonkannya, antara lain dengan pesta perkawinan anak-anak mereka. Mereka ini bisa pejabat birokrasi tinggi dan rendah, para aparat penegak hukum, politisi ibarat Dr. Jekyll and Mr. Hyde, serta wakil-wakil rakyat mempecundangi uang rakyat, bangsa dan negara. Janji-janji mereka ibarat lidah tak bertulang. Sumpah jabatan sekedar kembang upacara.
Mereka berpretensi beragama tetapi ternyata cuma sekedar ritual. Dan sebagai pejabat meskipun disumpah, itu cuma sekedar hiasan kembang upacara saja. Ingat : “apa yang dikagumi manusia dibenci oleh Allah (Lukas 16:15). Mereka itu termasuk wakil rakyat dari Sabang sampai Jayapura, juga di kandang serigala di Senayan, dengan tetap ada perkecualian, juga belepotan dengan lumpur hinaan KKN. Para akademisi hukum, juga dengan tetap ada perkecualian “sami mawon”, bahkan ada Guru Besar yang “pendapatnya” bergantung dari “pendapatannya”. Apa lagi akhir-akhir ini dalam kasus BLBI di mana jaksa minta disuap dan bukan saja disuap, melainkan ada perempuan cuma satu orang bisa menekuk lutut sejumlah pejabat tinggi penegak hukum. Kata kultur dominan : untung ada alat penyadap. Orang Belanda bilang : “de kruik gaat zo lang te water tot die breekt”. Alan Storkey (2005) menulis : “We practice peacemaking with hypocrisy”.
Para Farisi di Indonesia selalu berpendapat perlu ada undang-undang pembasmi KKN, tetapi sejarah Romawi seperti ditulis Tacitus : “When the state is most corrupt, than the laws are multiplied”. Jadi siapa yang dapat dipercayai untuk membasmi KKN ini yang sudah merajalela dan Indonesia dianggap adalah jagonya korupsi bukan saja di Asia tetapi juga di seluruh dunia. Tetapi jangan lupa para konglomerat hitam ikut bermain dengan halus dan gesit di zaman Orba sampai sekarang. Singapore dijadikan tempat persembunyian yang aman bagi uang haram dan dirinya, sehingga Singapore sebetulnya sama bejat. Jadi maklumlah kalau tidak mungkin ada undang-undang resiprositas untuk menyerahkan para koruptor. Ada saja alasan dari Singapore untuk mempersulit ditandatangani undang-undang ekstradisi yang menyangkut KKN.
Romawi hancur dan negara-negara KKN lainnya juga tunggu waktunya. Sejarah tidak berbohong kecuali mereka yang menulisnya. Indonesia selain bergumul dengan KKN, juga “track record”nya bertalian dengan HAM sama buruk dan busuk. Ada saja yang menghalangi dengan berbagai cara. Dan lihat saja bagaimana kondisi dan moral pendidikan kita, Matakuliah Pancasila sudah dihapuskan. Gedung-gedung Sekolah Dasar dalam keadaan menyedihkan dan bagaimana para pendidik ikut terlibat dalam permainan yang tidak bermoral dalam penyelenggaraan ujian negara. Jadi bagaimana mengharapkan anak didik bangsa yang bersih dan bermoral, kalau “guru kencing terbang dan murid kencing melayang”. Pelajaran “Budi Pekerti” sudah dihapuskan dan diganti dengan pendidikan agama. Ternyata keadaan tidak menjadi baik.
Hutan-hutan kayu ditebang tanpa memikirkan masa depan bangsa dan negara. Para aparatur birokrasi dan para aparatur penegak hukum ikut bermain patgulipat dalam “illegal logging”, “illegal fishing” dst. dst. dengan para cukong dari negara jiran. Polisi dan aparat birokrasi serta para penegak hukum ibarat pagar makan tanaman. Saya ingin sebut juga gebrakan KPK terhadap para petugas bea cukai di Tanjung Priok. Bagaimana dengan aparat Bea Cukai di lain tempat! Uang yang disita jelas berasal dari importir hitam. Pertanyaan saya : kapan aparat pajak dibersihkan?
Kebebasan beragama cuma slogan kosong belaka. Orang lupa bahwa “Faith cannot be coerced. If it is, it is not faith. …Christianity shows that God does not control belief”. (Cf. Matius 5:45 ; Alan Storkey, 2500: 166). Kelompok-kelompok preman mengharubiru rumah-rumah ibadah, menyerang para penganut agama tertentu dan pucuk pimpinan negara cuma bisa berjanji akan menindak. Orang lupa bahwa “panglima preman” adalah mantan ketua LBH Jakarta. Celakanya penguasa lupa bahwa SKB tidak memiliki dasar hukum (cf. Undang-Undang No. 10 Tahun 2004). Tidak lebih dan tidak kurang. Cuma begitu! Rakyat diterkam dengan harga kebutuhan sehari-hari yang terus meningkat. Janji-janji Pemilu adalah ibarat pepesan kosong. Rakyat disuguhkan dengan tontonan menarik di malam hari di Senayan dalam rangka 100 tahun Kebangkitan Nasional. Ongkos penyelenggaraan jelas berjumlah M atau T. Persis seperti di zaman Romawi. Ini yang dinamakan “afleidings manouvre” (Belanda) alias mengalihkan perhatian agar rakyat jelata lupa kelaparan mereka untuk sesaat. Tetapi penguasa lupa bahwa “there is no substitute for bread”. Sejarah seolah-olah berulang kembali ; semacam “populist bribe”.
Gosip di Jakarta bahwa Urip jual permata adalah hal yang mengherankan dan memalukan. Celakanya, banyak yang kecipratan. Kejaksaan Agung sudah kehilangan kredibilitas. Apalagi Mahkamah Agung yang diberi nama “TIRAN” kecil dan “The Evil” (vide brosur Konstelasi dari Perhimpunan Pendidikan Demokrasi No. 1, Oktober 2007). Jadi siapa yang menyekap dan siapa yang memeras. Fiasko terbesar kalau ternyata air disulap jadi BBM di mana korban penipuan adalah RI 1. Tetapi di waktu lalu beberapa mantan Presiden RI juga tertipu dengan bayi berbicara dari dalam perut. Ingat kasus “hoax” Ratu Markonah dan bayi ajaib Cut Zahara Fonna. Semoga tidak dengan “blue energy” di mana air jadi BBM. Orang Indonesia suka “hocus pocus” dan “bimsalabim”.
Lalu di mana suara kenabian gereja-gereja seperti terbelenggu dengan soal-soal “tetek bengek” intern gereja, padahal kini sedang diusahakan “teokratisasi” terselubung. Dan yang memalukan ada sekelompok pemuda/ mahasiswa LPMI membuat peristiwa seperti orang main “hocus pocus”. Alkitab tidak pernah mengajarkan demikian dan dijadikan semacam buku permainan santet. Pada akhirnya karena perbuatan yang tercela itu membawa mereka menginap di hotel prodeo entah di mana dan berapa lama. Untuk menjadi contoh dan teladan, anda tidak perlu jadi pendeta. Pengabdian dan pelayanan anda tidak perlu dalam ruang lingkup Gerejawi. Anda bisa mengabdi dan melayani di mana saja. Ada banyak jalan ke Roma. Simak kembali Amos 5:21-24.
Yesus mengutus murid-muridnya agar cerdik seperti ular — bukan jahat seperti ular, dan tulus seperti merpati — bukan dungu seperti kerbau (ingat kasus anggota LPMI di Batu dan Mat. 10:16-33). Sayang! Hedonisme dan materialisme sudah merajalela ke mana-mana melalui TV. Kristus menghendaki supaya kita sebagai anak-anak Tuhan menjadi contoh dan teladan sebagai warga negara yang bertanggungjawab untuk bayar pajak kepada Kaisar (Mat 22:15-22). Pendeknya sebagai anak Tuhan ada banyak contoh yang diperintahkan oleh Tuhan Yesus untuk mengabdi bersama ciptaan Tuhan yang lain di mana dan kapan saja. Pengabdian dan pelayanan harus vertikal dan horizontal. Simak Matius 22:37-40.
Orang bertanya, bagaimana dan apa bisa! Jawab saya sebagai pendidik : “Mulailah dari diri sendiri terlebih dahulu”. Kekristenan kita bukan saja harus tampak dari luar, melainkan dari dalam hati nurani juga harus sama, dan ikut bersinar ke luar. Luar dan dalam harus sama agar kita tidak dipandang munafik. Ingat contoh kritik Tuhan Yesus tentang kuburan, dari luar putih bersih, tetapi dari dalam kotor dengan tulang belulang (Matius 23:27-28). Kalau sulit atau ragu-ragu, anda bukan garam dunia, melainkan sekedar “garam Inggeris” untuk pencahar perut. Tugas kita adalah menerapkan “compassion” (Vgl. Khotbah di Bukit dari Kristus, Sang Mesias dalam Mat 5:1-12). Dan masih banyak sekali yang Juru Selamat menghendaki pengabdian dari kita kepadaNya. Saya akan jelaskan secara lisan bagaimana Dalai Lama bicara tentang “compassion” dari bukunya John Perkins dan saya akan mengaitkannya dengan persoalan dapur umum oleh Gereja. Gereja membuat dapur umum dan ibu-ibu dengan berdandan rapi masak makanan untuk dibagikan kepada yang menderita. Maksudnya baik tetapi salah strategi secara ekonomi dan sosio-politis. Kalau ada isyu dimasak dengan minyak babi, selesailah semuanya. Seharusnya mengikutsertakan para penjual makanan di kaki lima. Pasti aman tentang isyu minyak babi. Para penderita di tolong. Para pedagang kaki lima juga tertolong dan mereka akan bersyukur bahwa usaha mereka berhasil meskipun mungkin cuma sehari. Itu berarti sekali dayung dua tiga pulau dilalui. Para pedagang kaki lima yang non Kristen juga tertolong dan dapat manfaat. Tuhan Yesus beri hujan bukan saja kepada yang baik tetapi juga kepada mereka yang tidak baik (jahat). (Matius 5:45).
Kesimpulan sementara : Dalam rangka penegakan hukum di masa depan tugas orang Kristen harus bahu membahu dengan siapa saja tanpa diskriminasi untuk menyapu bersih KKN, “illegal logging”, “illegal fishing” “illegal market”, pemerasan yang dilakukan oleh oknum-oknum Bea & Cukai, Pajak, Badan Pertanahan Negara, penyuapan/ pemerasan oleh aparat penegak hukum (polisi, jaksa, hakim) dst.dst. Jangan lupa : barang siapa yang tidak setia kepada perkara-perkara kecil, ia tidak mungkin setia kepada perkara-perkara besar (Lukas 16:10). Secara pribadi saya tidak mengandalkan Gereja (yang kecil maupun yang besar) sebab suara kenabian mereka sedang “parau”. Sebagai orang yang berkecimpung dalam dunia sekuler, ada banyak jalan ke Roma dan melalui berbagai jalan kekristenan kita bukan saja yang di luar tetapi luar dan dalam haruslah sama agar tidak dituduh munafik. Saya tetap yakin pada Galatia 4:16, sebab kita berbicara bukan untuk menyenangkan manusia, tetapi untuk menyenangkan dan memuliakan nama Dia yang adalah Tuhan dan Juru Selamat (Vgl. Amos 5:21-24). Dan karena kita hidup bukan “in de kost” di negara RI, tetapi di tanah dan rumah kita sendiri, ingatlah janji atau lebih tepat proklamasi Tuhan Yesus dalam Matius 28:20 “Dan Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman”. Ini adalah janji kesetiaan karena baik Gereja maupun kita kerapkali diliputi rasa was-was dan takut. Soli Deo Gloria. KerajaanMu datanglah!

*) Oleh Prof.Dr. J.E. Sahetapy, Guru Besar Emeritus, Ketua Komisi Hukum Nasional RI. Disampaikan dalam Light of the National Conference 2008” pada tanggal 17 Juli 2008 di Wisma Kinasih, Kaliurang, Yogjakarta.

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 27 April 2009 in MATERI KULIAH, REFERENSI, SEBAIKNYA ANDA TAU!

 

Tag: , , , , , , , , , , , , , , , , ,

2 responses to “MASA DEPAN PENEGAKAN HUKUM DI INDONESIA *)

  1. karisma

    16 November 2011 at 8:56 am

    aduuhhh materinya berbelit-belit,.. yang ringkas ajaa..!!

     
  2. Chevi

    24 Mei 2009 at 4:24 pm

    Asli. pmk materi hukum digabung sama theologi… salut deh!

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: