RSS

Arsip Kategori: SEPUTAR PAPUA

PEMBUKAAN PKKMB (PENGENALAN KEHIDUPAN KAMPUS BAGI MAHASISWA BARU) DI LAPANGAN MAHACENDRA DI KAMPUS UNCEN WAENA.

PKKMB Uncen yang dilaksanakan dari tanggal 18 – 21 Agustus 2009 dibuka pada pukul 08.00 WIT di Lapangan Macendra, Kampus Uncen Waena dan dipimpin oleh Rektor Universitas Cenderawasih, Prof Dr Berth Kambuaya. Kegiatan ini diikuti oleh sekitar 1700 -an orang mahasiswa baru reguler dan ekstensi yang berasal dari delapan fakultas di Universitas Cenderawasih yang bertujuan untuk memberikan pengenalan bagi peserta PKKMB tentang aktifitas kampus yang akan mereka hadapi pada saat mereka berkuliah. Selain menyampaikan ceramah tentang ”Kebijakan Pendidikan Tinggi di Indonesia dan di UNCEN” Rektor Uncen juga secara pribadi menegaskan kepada para mahasiswa baru agar dapat Read the rest of this entry »

 
3 Komentar

Ditulis oleh pada 19 Agustus 2009 in BERITA, LIPUTAN KEGIATAN, SEPUTAR PAPUA

 

Tag: , , , , , , , , , , , , , , ,

LPMI Perwakilan Jayapura Selenggarakan STUDENT MISSION KE 16, di Supiori Selatan

PMKuncen :: Pelayanan Rohani ini berlangsung dari tanggal 13 Juni sampai dengan 25 Juni dan diikuti oleh 31 mahasiswa yang berkuliah dibeberapa universitas dan sekolah tinggi di Jayapura  antara lain UNCEN, USTJ, STIE-OG, STT-ISK, STIPER Sentani, STAKPEN Sentani dan STIE Port Numbay serta didampingi oleh 5 Staf LPMI dan beberapa Alumni. kegiatan ini adalah merupakan kegiatan lanjutan dari Pelatihan Pemuridan yang dilaksanakan di USTJ Jayapura. dan Tim STUDENT MISSION ini berangkat dari Jayapura  pada tanggal 13 Juni menggunakan KM SINABUNG tiba di kota Biak tangah malam (Terima Kasih buat Keluarga Sada di Dolog) keesokan harinya kemudian pagi harinya Tim  langsung bergerak menuju Korido untuk menunggu Jonson (Perahu Motor) yang akan menyeberangkan tim ke tempat pelayanan.

Kegiatan STUDENT MISSION kali ini dilakukan di dua tempat terpisah yakni di kepulauan Arui,  Distrik Supiori Selatan, Kab Supiori. Papua dari tanggal 15-22 Juni. Pembagian wilayah pelayanan pada kepaulauan Arui adalah dalam 4 Posko  pada 3 pulau berbeda yakni  Pulau Rani (2 Posko), Pulau Insumbabi (1 Posko) dan Pulau Aiburambondi (1 Posko).

Student mission supiori

Pelayanan di tiga pulau ini ditujukan pada masyarakat yang berada di 3 kampung tersebut.  Bentuk pelayanan yang diberikan di tiga pulau ini antara lain Seminar-Seminar, pelayanan ibadah di Gereja, kunjungan pastori ke rumah, Follow-Up BLD (1-6) dan pemutaran film Yesus. dengan tujuan agar masyarakat menyadari kasih penyertaan Kristus dalam kehidupan sehari-hari dan juga sebagai ajang tukar pikiran antar mahasiswa dan warga jemaat yang berada di kampung tersebut. materi-materi yang diseminarkan di 3 pulau ini antara lain; Doa, Bagaimana mamiliki saat Teduh yang baik, Okultisme, Etika pergaulan Muda Mudi (CIPAS) , Keluarga, Berkhotbah  dan Bagaimana Menyusun Liturgi. ”Kami merasa diberkati dengan kegiatan ini dan mengharapkan agar dilain waktu LPMI dapat sekali lagi berkunjung dan melayani lagi di kampung kami” Ujar Pakomis Wambraw, salah satu anggota Majelis GKI Nazareth Aiburambondi.

Sesudah kegiatan di Supiori, Tim Student Mission dengan menggunakan bis langsung menuju ke tempat pelayanan kedua yakni di kota Biak, setibanya di sana Tim langsung berkunjung ke beberapa SMA yakni SMA Negeri 1 Biak, SMA YPK 1, SMA Mandala dan SMK YPK. dengan bentuk pelayanan yakni Seminar Etika Pergaulan Muda Mudi. mengingat banyaknya remaja yang masih belum mengetahui secara benar pengertian dari Pacaran, cinta dan sex yang sering  disalah artikan menurut pengertian duniawi. ”Seminar Ini membuka wawasan saya tentang apa yang seharusnya saya lakukan jika saya bersama teman-teman saya, apa yang tidak boleh saya perbuat pada teman perempuan saya ” Ungkap Samuel Rumaropen siswa kelas XII, SMA YPK 1 Ridge.

Tim pun beristirahat pada hari minggu untuk menunggu kapal menuju Jayapura, dan puji Tuhan semuanya kembali ke Jayapura berkat lindungan dan penyertaan Yesus Kristus sehingga tak ada yang mendapat celaka. (walau beberapa mahasiswa turut membawa oleh-oleh batuk dan demam panas dari Biak…)

Oleh : AB+LE+AK

 
3 Komentar

Ditulis oleh pada 1 Agustus 2009 in BERITA, LIPUTAN KEGIATAN, SEPUTAR PAPUA

 

Tag: , , , , , , , , , , , , , , , ,

PPD UNCEN RESMI JADI FAKULTAS KEDOKTERAN

Jayapura, 17/7 (FINROLL News) – Jurusan Program Pendidikan Dokter (PPD) Universitas Cenderawasih (Uncen), Jayapura, Papua, secara resmi berubah status menjadi Fakultas Kedokteran, Jumat.

Acara peresmian Fakultas Kedokteran tersebut secara langsung dilakukan Gubernur Provinsi Papua, Barnabas Suebu, serta Rektor Uncen, Prof. DR. Berth Kambuaya, MBA, dengan dihadiri unsur Muspida, Lembaga Swadaya Masyarakat serta undangan lainnya, di Jayapura, Jumat.

Gubernur Provinsi Papua, Barnabas Suebu, dalam sambutannya yang dibacakan Asisten I Sekretaris Daerah (Setda) Papua, Ibrahim Is Badarudin, menyambut baik kehadiran Fakultas Kedokteran Uncen sebagai langkah awal meningkatkan kesehatan masyarakat Papua.

“Semoga dengan adanya Fakultas Kedokteran di Papua ini dapat menjadi tonggak perubahan tingkat kesehatan masyarakat Papua,” kata Gubernur.

Ia mengharapkan, kedepannya, Fakultas Kedokteran Uncen dapat menciptakan Sumber Daya Manusia (SDM) Papua yang baik, terutama dalam bidang kesehatan, yang nantinya akan menjadi pelaya masyarakat.

“Dengan tenaga pengajar yang baik serta fasilitas yang memadai, tentu kita bersama menginginkan lulusan Kedokteran yang benar-benar berkualitas di bidangnya,” ujarnya.

Sementara itu, rektor Uncen, Prof. DR. Berth Kambuaya, MBA, mengungkapkan, terwujudnya PPD menjadi Fakultas kedokteran Uncen, tidak terlepas dari kerja keras semua pihak yang telah memperjuangkan pembentukannya.

“Kita sudah mengusulkan kepada adanya Fakultas Kedokteran Uncen ini sejak tahun 2000 pada Direktorat Jenderal (Dirjen) Pendidikan Tinggi serta Menteri Pendidikan, dan akhirnya berhasil terealisasi,” kata Berth.

Lebih lanjut, kata Berth, pihaknya akan terus berupaya meningkatkan mutu lulusan Fakultas Kedokteran agar saat kembali bertugas ditengah masyarakat dapat berbuat yang terbaik.

“Untuk lulusannya harus bisa menjadi orang yang berguna dan selalu siap membantu masyarakat,” lanjutnya. (PSO-126/17/07/2009)

 
11 Komentar

Ditulis oleh pada 17 Juli 2009 in BERITA, INFO UNCEN, SEKITAR KITA, SEPUTAR PAPUA

 

Beto Absen Persipura Hanya Andalkan Tuhan

JAYAPURA-Abesennya striker Persipura Beto ternyata membawa hikmah bagi kubu Persipura. Ketua umum Persipura Menase Robert Kambu MSi mengatakan inilah pembuktian tim Persipura sesungguhnya.
Ya, karena selama ini Kambu menilai trisula Persipura Boaz, Beto, dan Jeremiah selalu disanjung-sanjung, padahal Persipura adalah permainan tim. Jadi tidak ada satu atau dua pemain yang hebat tapi Persipura. Dan Persipura harus bisa membuktikan kehebatan tanpa Beto.
“Saya selalu katakan bahwa yang penting kami andalkan Tuhan saja, pasti Tuhan akan menjawab doa dan pergumulan kami, saya berharap semua masyarakat mendoakan Persipura,”ajaknya.
Diungkapkan Kambu, dirinya juga bakal berangkat menuju Palembang dalam rangka memberikan spirit kepada para pemain Persipura, tujuannya agar Boaz Solossa dkk tetap semangat dalam laga final nanti.
“Saya sudah sampaikan kepada Boaz dirinya harus mengandalkan Tuhan dalam bermain, jika andalan diri sendiri maka Tuhan tidak akan memberikan berkat, kebetulan kemarin dia tak mencetak gol, sehingga saya sendiri akan memberikan motivasi kepadanya secara khusus,”tuturnya.
Menyoal pemberian bonus kepada Persipura yang hattrik ke final Copa Dji Sam Soe, Kambu menegaskan pemberian bonus tersebut sudah diatur dalam kontrak pemain. Jadi manajemen tidak memberi bonus secara khusus. Sebaliknya Walikota Jayapura ini menantang pihak-pihak lain untuk berpartisipasi dalam pemberian bonus.
Lebih lanjut Kambu mengatakan dalam musim depan pihaknya akan berupaya menarik sponsorship Persipura karena nantinya Persipura tidak hanya main di Indonesia tapi juga di tingkat Asia, sehingga secara tidak langsung Persipura akan ikut mempromosikan perusahaan tersebut.
“Untuk sponsor memang sudah diatur seperti ketentuan BLI seperti loga Djarum di kaos setiap tim ISL, tapi juga ada sponsor dari klub. Dan karena musim depan Persipura akan bermain di level Asia tentu Persipura akan ikut memperomosikan perusahaan tersebut sampai ke mancanegara,” terangnya. (cak)

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada 26 Juni 2009 in BERITA, INFO UMUM, LIPUTAN KEGIATAN, SEPUTAR PAPUA

 

Tag: , , , , , , ,

CARA MEMBUAT API OLEH SUKU ONATE

A. Latar Belakang
Suku Onate terletak di Provinsi Papua, Kabupaten Kepulauan Yapen. Suku ini merupakan salah satu suku terbesar di Papua terutama di Kabupaten Yapen. Tempat aktivitas kehidupan suku ini pada awalnya di daerah pegunungan, namun sekitar Tahun ± 80an sebagian suku ini berpindah dari daerah pegunungan ke daerah lembah bahkan kedaerah pesisir pantai. Suku ini trerdapat ± 150an marga. Bahasa daerahnya disebut bahasa gunung atau sehari-hari biasa disebut bahasa darat.
Mata pencaharian pada zaman purba kala (nenek moyanmg) yaitu berburuh dan berkebun. Ketika sebagian dari suku ini berpindah dari pegunungan kedaerah lembah bahkan ke pesisir mata pencaharian mereka adalah berburu, berkebun dan bernelayan hingga saat ini tempat tinggal aktivitas suku ini sebagian masih di daerah pegunungan dan sebagian besar di daerah lembah dan pesisir. Mata pencahariannya masih tetap berburu, berkebun dan bernelayan. Meskipun aktivitas kehidupan / tempat tinggal mereka berbeda-beda namun kebersamaan tetap terjalin

Suku ini mengenal adanya system gotong royong sejak zaman purba kala (Nenek Moyang), hingga saat ini system tersebut masih tetap dipergunakan. System ini bertujuan membantu, menolong, meringankan beban / suatu pekerjaan yang dilakukan oleh seseorang keluarga, organisasi atau lembaga.
Selain itu dikenal juga dengan system barter. Hingga saat ini system barter merupakan tradisi yang sangat susah dihilangkan. Latar belakang system ini memberikan rasa keperdulian antara sesame/family.

Berikut ini adalah salah satu unsur kebudayaan Suku Onate

Membuat Api
Pada zaman purba kala Moyang Suku Onate membuat / memperoleh api dengan menggunakan alat dan bahan sebagai berikut:

A. Alat : 1. Serpihan /Pecahan (piring/botol)
2. Parang / Pemotong

B. Bahan : 1. Mayuri
2. Bambu Kering Berukuran panjang ± 20 cm
3. Daun Kering
*) Serpihan Pecahan = Pecahan yang berukuran kecil yang bisa dipegang
**) Mayuri = Bentuknya seperti kapas namun kapas lebih halus. Mayuri di dapatkan dari pelepah pohon kapirokhi yang masih kecil / muda
***) Bambu Kering = Yang digunakan adalah bambu.

Prosedur Kerja
1. Mayuri di ambil dari pohonnya, dengan cara mengikis pelepah kapirokhi, kemudian di jemur hingga benar-benar kering.
2. Pecahan dipegang bersamaan dengan mayuri dengan meletakan mayuri di bagian bawah pecahan. Kemudian di gesek-gesek dengan bambu dari arah kiri ke kanan. Jika melatak mayuri di atas pecahan maka arah gesekannya dari kanan ke kiri. Gesekan dilakukan berulang kali hingga terasa panas dan akan menimbulkan asap.
3. Pada saat terjadi asap di tiup sambil di gesek hingga terjadi percikan-percikan api.
4. Pada saat terjadi percikan-percikan api semakin banyak ampas/bara api mulai tertenbek letakan ampas / bara tersebut di daun-daun kering lalu di tiup hingga terbentuknya api/menyala.

Oleh : Yesaya Y. Woru, Fak: MIPA Jur: Fisika

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 24 Juni 2009 in MATERI KULIAH, SEPUTAR PAPUA

 

Tag: , , , , , , , ,

Amungme: Manusia Pertama dan Utama

Menurut cerita, nenek moyang suku Amungme di masa purba keluar dari sebuah gua besar yang gelap. Gua itu terletak di dalam bumi, namun manusia yang keluar dari dalamnya seolah-olah keluar dari rumah.

Gua itu bernama Mepingama Buk yang berarti gunung tempat manusia pertama keluar atau gunung yang menghasilkan manusia. Menurut cerita orang-orang tua, gua tersebut terletak di timur. Gua yang berfungsi sebagai rumah itu gelap gulita, namun didalamnya terdapat berbagai makanan dan bibit-bibit tanaman yang diatur rapi. Pada suatu pagi mereka bermaksud membuka pintu gua itu, namun tak pernah berhasil; satu demi satu, menurut keret (klan) masing masing, berusaha dengan sekuat tenaga sambil berdoa pada leluhur, namun semuanya gagal. Kemudian mereka meminta bantuan pada seorang wanita tua yang bernama Anganitmangin dan Aimgatsin.
Wanita itu lantas menugasi anak gadisnya yang masih perawan untuk berdiri dan meletakkan tangannya di depan pintu gua itu seraya berkata ,”Sabongamtek-Mebongamtek “, yang berarti “Pintu bukalah dirimu sendiri” pada saat itu terbukalah pintu itu. Itu terjadi di suatu pagi. Kemudian berduyun-duyun manusia keluar. Mereka terbagi dalam tiga kelompok. Kaka yang tertua, Wompal Meki, memimpin kelompok pertama dan langsung berjalan ke arah barat. Adiknya Womkelaki, memimpin kelompok yang kedua dengan membawa bibit-bibit pepohonan yang berguna bagi manusia dan hewan. Bibit-bibit itu ditaburkan di semua tempat yang mereka lalui. Adik yang ketiga, Kamki atau Olipungki, memimpin kelompok yang terakhir. Mereka ini membawa semua peraturan, tentang peribadatan, adat, cerita rakyat, dan lain -lain. Mereka juga menuju ke barat. Berapa lama waktu mereka berjalan. Tak ada yang tahu.
Suatu ketika tibalah mereka di Kuyawagai, di sekitar Lembah Baliem. Dari situ mereka terus ke gunung Meamabuk. Disini mereka ditimpa malapetaka kedinginan yang dahsyat. Segera mereka membuat api unggun yang besar. Orang Amungme berada dekat dengan api, sementara yang datang belakangan berdiri di belakang sehingga mereka tetap menggigil kedinginan dengan gigi bergemeretuk. Akibatnya, mereka saling tak mengerti apa yang diucapkan. Ketika seorang meminta api, ia diberi batu, ketika meminta makan, kayu yang diterima, dan sebagainya. Mulailah kelompok orang-orang itu berbicara dalam bahasa mereka sendiri-sendiri, dan mereka pun saling berpisah.
Mite yang dimiliki oleh tiap klan Amungme, walaupun seolah berbeda versinya namun isi dan tujuannya sama. Mite ini kerap kali menjadi latar belakang timbulnya pengharapan akan pengenapan janji yang disampaikan oleh moyang purba – yaitu bahwa kelak mereka akan memperoleh kehidupan penuh bahagia. Manusia Amungme menunggu dengan penuh harapan akan terwujudnya dunia yang penuh bahagia itu. Siapa yang memiliki kunci akan dapat membuka pintu rahasia itu, dan ia akan masuk kedalamnya dengan tubuh yang ada. Itu sebabnya orang Amungme bekerja dengan rajin, bersemangat dan penuh dengan kegembiraan agar dapat menarik hati roh para leluhur, atau Hai Jogon Nerek. Dengan cara itu mereka berharap dapat mempercepat datangnya dunia yang penuh bahagia itu. Walaupun begitu, harapan itu bisa juga membuat mereka mengabaikan pekerjaan di ladang karena mereka menganggap akan segera mengadakan ‘ perjalanan’.
Sewaktu misi Katolik masuk ke lembah-lembah Tsinga dan Noemba, masyarakat disana rajin dan patuh membangun gedung gereja, sekolah, rumah-rumah guru, pastoran, jalan -jalan antar kampung dan sebagainya. Jalan antara Bujaulaki da Umpliga-Sanggalagon dibuat dengan cara menimbunnya dengan kayu sehingga yang melewatinya seolah -olah berjalan diatas jembatan. Pekerjaan ini diatur dan dipimpin Paulus Selinggi Solme. Ia juga membangun rumah bentuk baru dan tinggal di rumah itu bersama dengan istri dan anak -anaknya. Demikianlah harapan orang Amungme itu bagaikan api yang membakar rumah dan sulit dipadamkan.
Janji moyang purba terkait dengan lima manusia luar biasa yang telah gaib: Womkela, Isip, Isep, Imbong dan anak gadisnya – semuanya telah pergi. Tetapi mereka akan bertemu dengan Eniwit yang akan menunjuk jalan menuju padang atau rumah bahagia abadi – dunia Hai Jogon dimana tak ada penyakit, lapar, dahaga, kebencian, permusuhan dan maut. Dari sana mereka berlima akan kembali untuk memimpin suku Amungme ke dunia/rumah bahagia abadi itu. Suku Amungme memandang rahasia ini sebagai pusaka yang memberikan kekuatan jiwa – raga bagi ahli waris/keturunan, tetapi tak boleh disebarluaskan. Kata -kata rahasia yang harus diwariskan itu berbunyi: Kolevogolki mingamo jore, Nadala ilege, Nilang jolaye; Dingkaikinung wongomong, Kalekgo ivongonmok muiye, Avulkeveng – aranyok dolle, Ningaleye. Yang berarti: Pembebasan akan datang Sebuah daun lebar akan turun di sebelah barat Tetapi akan terbang kembali Laksana kuncup bungan ubi, tumbuh dan besar di tanah Demikian pula daun lebar itu akan muncul di kaki gunung Lihatlah, perhatikanlah dan waspadalah. (*)

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada 23 Juni 2009 in KARYA TULIS, SEBAIKNYA ANDA TAU!, SEPUTAR PAPUA

 

Tag: , , , ,

Indahnya alamku Papua

Terbentang luas teduh lautmu
Berbaris liku gunung lembahmu
Sungai mengalir setia bernyanyi
Melepas duka lara pribumi

Rimba mu sunyi menyimpan misteri
Alammu suci pelindung margasatwa
Barisan pohon teguh berdiri
Simbol kegagahan yang mempesona

Bila malam menjemput pagi
Camar terbang melayang bersuka
Awan dan kabut berjela, berkaca
Pada danau dan hijau daun

Sementara,, cenderawasih terbang merdeka
Menmyambut sang surya di ufuk timur
Yang perlahan – lahan,,
Menunjukan kuasaNya,,,

Buah karya : Rocky warpur
April 2006

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 14 Juni 2009 in RENUNGAN, SEPUTAR PAPUA

 

Tag: , , , ,

Ketujuh Unsur Pokok Kehidupan Orang Baliem

1. Baliem Firdaus ( Surga )

Ketika para misonaris datang melihat lembah ini dan mengatakan lembah ini sangat agung’ dan berita ini kemudian dapat disebarkan diseluruh wilayah Amerika ‘ bahwa terdapat suatu lembah firdaus, di daerah Pasifik (Khatulistiwa). Banyak orang yang datang berlomba-lomba untuk melihatnya, melalui kegiatan ekspedisi kemudian dilanjutkan dengan Penyebaran injil yang lebih intensif.

2. Baliem Penuh Rahasia

“’Namun jiwa nen puwaga meke elok mekere mawaga mekere eloklek”
artinya : batas tali pusatku ini bagian atas boleh ku bilang padamu, tetapi batas bawa tidak bisa sama sekali
batas bawa ini yang sementara disebut rahasia, karena segalah sesuatu yang hendak sudah dan akan dibicarakan semuanya terdapat dalam satu rahasia adalah dibagian bawa.

3. Baliem Penuh Kesuburan

Keorganikan bahan pangan terdapat sangat berlimpah di alam baliem
segalah jenis tanaman ditanam tanpa memerlukan pupuk
kandungan unsur hara (pH) tanah yang cukup tinggi
tidak heran jika anda pergi ke Wamena melihat banyak jenis sayuran berlimpah disana

4. Pelestarian Alam

Ada pepatah yang mengatakan
Oka-Heleka, Sue-Hagec atoma hinyakmoplakogo
ako warek, awenekak palek welagarek

bahwasanya setiap honai/suku masing-masing memegang satu simbol dari benda-benda alam kemudian mereka mempersembahkanya kepada makhluk, (hewan / tumbuhan) .

5. Struktur Kepemimpinan
Kewa, tulem & Tikmo/Yaman

Artinya : Depan, tengah & Belakang lahir norma (setiap orang mempunyai status kepemimpinan yang jelas sehingga setiap orang balim melaksanakan tugasnya sesuai dengan fungsi / perannya)

6. Rasa Sosial
Weak-hano, kepu-hewelek hinyom hanorogo logonyo
Artinya: sejelek-jelek, sebaik-baik apa pun manusia ini, hiduplah bersama dengan baik.

7. Hukum Adat

Bahwasanya kita dapat melihat bahwa kadang-kadang hukum pemerintah tidak mampu menyelesaikan beberapa perkara, namun dapat diselesaikan dengan hukum adat. Misalnya : dalam hal pernikahan orang Balim menyelesaikanya dengan ”oko woknom/wogosin atau ecoko waganin” (pembayaran mas kawin)

Oleh: Sonimo Lani (Mahasiswa USTJ Fakultas Teknologi Industri & Kebumian, Prodi : Teknik & Manajemen Industri. Semester: 8 [delapan])

 

Tag: , , , , , , , , ,

PEMILU nanti KAM PILIH CALEG ATO TIDAK???

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada 9 Maret 2009 in BERITA, INFO UMUM, SEPUTAR PAPUA

 

Tag: , , , , , ,

GEMPA LAGI di MANOKWARI

Badan Meteorologi dan Geofisika- JAKARTA (BMG) menyatakan, gempa bumi berkekuatan 5,5 skala richter (SR) terjadi di Manokwari, Papua Barat, Minggu malam sekitar pukul 19.15 WIB atau 21.15 WIT.Menurut BMG, pusat gempa terjadi pada kedalaman 51 Km dengan lokasi 0,56 Lintang Selatan (LS) dan 133,08 BT (Bujur Timur) dan 114 Km arah barat laut Manokwari.

BMG menyatakan gempa itu tidak berpotensi menyebabkan tsunami. Hingga kini belum ada laporan soal adanya korban dan kerusakan akibat gempa itu. Gempa Minggu malam ini adalah yang ketiga kali terjadi di Indonesia Timur dalam sehari ini karena sebelumnya terjadi gempa di Sulawesi Utara dan Maluku.

Pukul 10.52 WIB, gempa bumi berkekuatan 5,4 SR terjadi di Tenggara Melonguane, Sulawesi Utara. Pusat gempa ini terjadi di posisi 3,67 LU dan 126,87 BT dengan kedalaman 62 Km dan terletak di 137 km sebelah tenggara Melonguane, Sulawesi Utara.

Sebelumnya, pada pukul 10.08 WIB, gempa bumi berkekuatan 5,1 SR terjadi di 245 Km barat laut Saumlaki, Maluku. Pusat gempa terjadi di posisi 6.72 LS – 129.50 BT dengan kedalaman 136 km. Kedua gempa itu juga tidak berpeluang menimbulkan tsunami.

Sumber : http://www.republika.co.id

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 23 Februari 2009 in BERITA, SEPUTAR PAPUA

 

Tag: , , ,

Gempa di Manokwari

Senin, 5 Januari 2009 | 00:15 WIB

Jayapura, Kompas – Gempa di Manokwari, Papua Barat, Minggu (4/1), mengakibatkan seorang anak tewas, lebih dari 40 orang luka, dan ratusan bangunan rusak. Siaran pers Badan Nasional Penanggulangan Bencana menyebutkan, ada dua korban jiwa.

Gempa pertama terjadi Minggu pukul 02.43 dengan kekuatan 7,2 skala Richter. Pusat gempa berada di sebelah barat Manokwari dengan kedalaman 10 kilometer. Gempa susulan terjadi pada pukul 05.33 dengan kekuatan 7,6 skala Richter.

Getaran gempa membuat Hotel Mutiara Sanggeng dan Hotel Kali Dingin Wosi ambruk. Empat tamu terjebak dalam Hotel Mutiara. Keempat korban dapat dievakuasi enam jam sesudahnya dalam kondisi kritis.

Di Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Manokwari, Yolanda Fabiola Banggoanbo (10) tewas tertimpa bangunan.

Hingga Minggu petang, data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika menunjukkan, Manokwari diguncang 29 kali gempa tektonik berkekuatan lebih dari 5 skala Richter.

Direktur RSUD Manokwari Hengky Tewu menuturkan, ada 26 orang dirawat karena patah kaki dan tangan. Lima di antaranya penumpang kapal Dorolonda yang sedang merapat di dermaga Pelabuhan Manokwari, Minggu pagi. Mereka terjatuh dari tangga kapal.

Menurut Kepala Polres Manokwari Ajun Komisaris Besar Pit Wahyu, berdasarkan laporan para kepala polsek, korban jiwa ada 1 orang, luka ringan 40 orang, dan luka berat 3 orang. Jumlah pengungsi sekitar 1.000 orang di kota dan 7.000 orang di Distrik Masni, 90 kilometer dari kota.

Pit mencatat, Kantor Gubernur Papua Barat, kantor bupati, dan sejumlah kantor distrik rusak ringan. Sebelas bangunan rusak berat di kota (Distrik Manokwari Barat), antara lain Hotel Swiss-Bell, Mal Hadi, Gedung Pelni, rumah dinas bupati, dan gudang beras. Selain itu, 106 rumah rusak ringan dan 60 rumah rusak berat. Sebuah masjid dan dua gereja juga rusak.

Sekretaris Daerah Kabupaten Manokwari Anthony Lessnusa mengatakan, warga butuh bahan makanan dan tenda. Warga Manokwari berjumlah 200.000 memilih tinggal di luar rumah karena takut gempa susulan.

Untuk sementara, pemkab dan aparat keamanan menyediakan posko pengungsian di Lapangan Borarsi, Markas Kodim Manokwari, dan Lapangan TNI AL.

Aktivitas penerbangan di Bandara Rendani Manokwari dialihkan ke Bandara Frans Kaisiepo, Biak, dan Bandara Sentani, Jayapura. Kepala Bandara Rendani Sabaruddin mengatakan, gempa menyebabkan peralatan navigasi dan komputer di menara kontrol terjatuh sehingga membutuhkan kalibrasi ulang.

Gempa juga terasa di Sorong. Sejumlah bangunan rusak, tetapi tak ada korban jiwa.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Minggu siang, menginstruksikan sejumlah menteri agar berangkat ke Manokwari. Presiden juga berkomunikasi dengan Gubernur Papua Barat Abraham Octovianus untuk memeriksa langkah darurat yang dilakukan. ”Saya menerima informasi ada empat orang meninggal akibat gempa dan beberapa bangunan rusak,” katanya.

Menurut siaran pers Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kepala BNPB, Menteri Perhubungan, Menteri Pekerjaan Umum, Menteri Sosial, dan Menteri Kesehatan beserta sejumlah wartawan berangkat ke lokasi bencana pukul 14.00. Dengan pesawat Hercules, tim membawa 1 mobil penyelamat, instalasi penjernih air, 20 tenda peleton, dan 200 tenda gulung.

Wakil Presiden Jusuf Kalla menyatakan telah mengecek kondisi pascagempa bumi di Manokwari.

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Surono menyatakan, warga tak perlu khawatir terjadi tsunami karena pusat gempa berada di darat.

Gempa bumi tektonik berkekuatan 5,6 skala Richter juga melanda Kabupaten Manggarai Barat, Flores, Nusa Tenggara Timur, Minggu pukul 02.20. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa itu. (ICH/HAR/CHE/SEM)

sumber:http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/01/05/0015475/gempa.di.manokwari

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 7 Januari 2009 in BERITA, SEPUTAR PAPUA

 

Tag:

Kapten Meki Nawipa, Pilot Asli Papua pemilik Pesawat “The Spirit of Papua”

Berangkat dari inspirasi melihat kecakapan pilot-pilot misionaris menerbangkan pesawat di pedalaman Papua keinginan menjadi pilot didalam diri Meki Nawipa, lelaki asli Enarotali, Paniai, Papua ini seakan tak terbendung lagi. Bahkan setelah menjadi pilot, ia akhirnya memiliki pesawat sendiri. Bagaimana impian dan keinginannya?

Laporan Rambat

The Spirit of Papua (nama pesawat) yang dimiliki Capt Meki Nawipa adalah harapan dari sebuah pencapaian atas anugerah Tuhan dan kerja keras. Ini baru awal sebagai wujud dari keinginan dan komitmen untuk mewujudkan putra/putri Papua menjadi penerbang (pilot) baik Indonesia, khususnya Papua maupun dunia internasional.

“Sejak 5 tahun, saya punya tekat menjadi pilot. Saya dapat inspirasi ini dari melihat kecakapan pilot-pilot misi dari Yayasan Penerbangan Misi – MAF (Mission Aviation Fellowship) dan AMA (Assotiation Mision Aviation). Namun, saya terkendala kurang info, kesempatan dan biaya untuk sekolah pilot,” kata Meki Nawipa, Presiden Direktur The Spirit of Papua baru-baru ini.

Namun, hal itu tidak menyurutkan keinginannya untuk menjadi pilot, hingga ia mendapatkan kesempatan study di Deraya Flying School Jakarta dan mendapatkan tahap Privat Pilot License, yang didukung Lembaga Pengembangan Masyarakat Irian Jaya (LPMI) yang merupakan mitra PT Freeport Indonesia.

Lalu, Meki Nawipa kembali ke Papua dan bekerja di Yayasan MAF sebagai pencuci pesawat dan kembali berkesempatan terbang bersama MAF Australia di PNG dengan pencapaian hasil memuaskan. “Saya kembali ke Papua dan mendapat peluang studi penerbangan ke Australia di Bible College of Victria (BCV) di Melbourne yakni 2 tahap, tahap Comersial Pilot License tahun 2006 dan tahap ME-IR (Multi Engine & Instrumen Rating) 2007, setelah selesai saya bekerja sebagai tenaga pilot pada maskapai penerbangan Susi Air,” ujarnya.

Didampingi, Abner Bob Molama ST, Direktur Operasi The Spirit of Papua Meki mengakui kini impiannya menerbangan pesawat sudah terwujud, namun ia tidak berhenti disitu saja karena merupakan awal perjuangannya.

Semangat perjuangan ini, membuahkan hasil awal dengan diluncurkannya pesawat milik pribadi Meki Nawipa yang diperoleh dari perjuangan 10 tahun untuk fokus pada pengembangan SDM Papua umumnya, khususnya pada bidang penerbangan.

“Pesawat jenis Cessna 172 M PK-HAC ini dirancang khusus untuk mentraining penerbang pemula, yang kami luncurkan 9 Agustus 2008 lalu di Bandar Udara Halim Perdana Kusuma, Jakarta,” ujarnya.

Tentang nama pesawat The Spirit of Papua ini, jelas Nawipa, merupakan jelmaan dari isi hatinya yang bertujuan dan harapan dari pengadaan pesawat ini merupakan langkah awal mencapai tujuan selanjutnya. Pesawat miliknya tersebut kini beroperasi di Aero Flyer Institute, sebuah institut yang bergerak pada bidnag pelatihan pilot-pilot pemula, milik Batavia Air di Curug.

“Kami tempatkan disitu, merujuk pada tujuan dan harapan bahwa adanyaa putra-putri Papua yang belajar menerbangkan pesawat. Artinya, pesawat itu adalah awal bermunculan pilot-pilot Papua yang selanjutnya mengukir prestasi-prestasi membanggakan,” ujarnya merendah.

Ditembahkan, kehadiran pesawat ini, diharapkan akan bermunculan putra-putra Papua menjadi pilot handal, apalagi kebutuhan pilot di Indonesia cukup banyak, sehingga melalui The Spirit of Papua ini, dapat mewujudkan penerbang dari Papua Saat ini pihaknya telah mendidik 3 putra-putri Papua menjadi pilot, dimana untuk masuk mengikuti pendidikan selama 18 bulan ini membutuhkan dana sebesar 44.700 US dolar. ****

 
4 Komentar

Ditulis oleh pada 11 Desember 2008 in BERITA, SEPUTAR PAPUA

 

Tag: , , , , , , ,

PEMEKARAN KABUPATEN MERUPAKAN IMPIAN PARA KORUPTOR

WAMENA  - PEMEKARAN Kabupaten di Papua yang saat ini ramai dibicarakan boleh dikatakan merupakan keinginan para koruptor. Tujuan mereka tidak lain adalah mencuri uang rakyat di kabupaten baru hasil pemekaran. Makanya, berbagai retorika dimunculkan untuk mendapat simpati rakyat agar pemekaran kabupaten bisa sukses. Beberapa kabupaten baru yang sedang digarap saat ini antara lain Kabupaten Muyu, Yalimo, Lanni Jaya, Mamberamo Tengah, Nduga, Grime Nawa, Ilaga dan Awyu Raya.
Salah satu alasan yang banyak digembor-gemborkan para promotor pemekaran adalah untuk memperpendek rentang kendali pelayanan pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat setempat. Tetapi, alasan ini terbukti tidak benar. Berdasarkan kenyataan yang ada, kehidupan rakyat Papua semakin terpuruk justru setelah pemekaran kabupaten.

Meningkatnya harga-harga kebutuhan pokok, biaya pendidikan, biaya kesehatan, biaya transportasi, parahnya infrastruktur, suburnya sukuisme dan hengkangnya kaum pribumi dari pusat-pusat kota menuju pinggiran kota sebagai konsekuensi logis dari arus masuk kaum pendatang yang tak terbendung bisa dijadikan ukuran ketidaksuksesan pemekaran kabupaten dan malapetaka yang ditimbulkannya.

Maka, pemekaran kabupaten di Papua sejatinya tidak bertujuan untuk memperpendek rentang kendali pelayanan pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat setempat. Tujuan sejatinya adalah memperpendek rentang kendali peluang korupsi. Mereka yang tangannya tidak menyentuh uang rakyat karena tidak punya akses ke pemerintahan terpaksa menempuh cara ini untuk memenuhi tujuan jahatnya.

Anehnya, rakyat pribumi Papua yang melarat setelah pemekaran inilah yang selalu dimobilisasi oleh segelintir pejabat dan mahasiswa pribumi yang haus kekuasaan. Mereka berkali-kali ditampilkan di media massa dan menyatakan bahwa pemekaran adalah aspirasi kami yang murni.

Padahal, ketika diajak demonstrasi mendukung pemekaran kabupaten, kebanyakan dari mereka berteriak dalam keadaan lapar. Atau, setelah berdemonstrasi, mereka masih kesulitan mencari biaya pengobatan anaknya yang menderita busung lapar. Penderitaan mereka adalah akibat langsung dari pemekaran kabupaten.

Memang, pemekaran kabupaten merupakan kebijakan Jakarta untuk memecah kekuatan rakyat yang menuntut kemerdekaan Papua setelah kejatuhan diktator Soeharto (bukan Orde Baru). Makanya, setelah pemekaran, kesejahteraan rakyat pribumi sulit dicapai. Yang tercapai adalah lemahnya gerakan kemerdekaan Papua yang diiringi dengan kelahiran koruptor di mana-mana.

Jika ditelusuri secara seksama, rakyat pribumi yang dimobilisasi saat ini untuk mendukung ide pemekaran kabupaten adalah mereka yang dulu pernah dimobilisasi untuk tujuan serupa. Setelah pemekaran kabupaten tahap pertama sukses dalam tahun 2003 lalu, kini rakyat yang sama dimobilisasi untuk kedua kalinya.

Hampir di setiap kabupaten induk maupun pemekaran, mereka yang memobilisasi rakyat untuk pemekaran kabupaten saat ini adalah sekelompok orang yang tidak mendapat posisi penting (atau sama sekali non-job) di pemerintahan setempat. Makanya, tangan mereka memang tidak akan menyentuh uang rakyat untuk selama-lamanya.

Karena tidak kuat menahan “Dahaga Korupsi” sementara mereka tidak mampu menyingkirkan pejabat korup dari kursinya, satu-satunya cara yang ditempuh adalah memobilisasi rakyat untuk membentuk kabupaten baru. Kabupaten baru adalah satu-satunya “Sumur” yang dana operasional dari Otonomi Khusus maupun Pendapatan Asli Daerah (PAD)-nya bisa menjadi “Air” yang akan memuaskan “Dahaga Korupsi” mereka.

Dalam aksinya, mereka rupanya tidak mengalami kesulitan karena selain tingkat pendidikan mereka yang minim, rakyat pribumi ini sudah cukup menderita akibat ulah para anggota DPRD yang mereka pilih dalam Pemilu Legislatif 2004 maupun para Bupati dan Wabup yang mereka pilih secara langsung.

Saat berkampanye, berbagai janji muluk diteriakkan untuk mendapat dukungan suara. Setelah terpilih, mereka menguras uang rakyat layaknya uang pribadi. Mereka merasa bangga ketika berkeliaran di tengah-tengah rakyat dengan mobil yang dibeli dengan uang korupsi. Anak-anak mereka pun merasa bangga ketika berfoya-foya dengan uang hasil korupsi ayahnya.

Lebih parah lagi, mereka paling senang memamerkan barang-barang mewah hasil korupsi di depan orang-orang yang pernah mendukung mereka saat Pemilu atau Pilkada, seolah-olah ingin mengatakan : “suara yang kalian berikan dalam Pemilu dan Pilkada lalu itu hasilnya *****a ini, tolong berikan suara anda dalam Pemilu atau Pilkada berikutnya.”

Orang Papua yang karakternya sebagai manusia sejati telah hancur berkeping-keping karena dijajah berbagai bangsa asing selama ratusan tahun terbukti menemui kesejatian dirinya dengan cara biadab ini. Setiap orang ingin menjadi pejabat yang sukses dan kesuksesan mereka diukur dengan suksesnya penipuan mereka terhadap rakyat sendiri dan kesuksesan menjarah uang rakyat tanpa tersentuh hukum.

Temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Republik Indonesia perwakilan Papua di Jayapura tentang korupsi yang mereka praktekkan sudah pada tingkat kronis dan pengadilan rakyat patut diterapkan untuk mengadili mereka seandainya aparat penegak hukum negara ini tidak serius meringkus mereka.

Berdasarkan hasil temuan BPK, diketahui bahwa semua kabupaten pemekaran dan kabupaten induk di Papua merupakan lahan subur bagi berkembangnya kejahatan berlabel “tikus-uang” ini. Laporan-laporan terakhir lembaga ini menyebutkan, Ratusan Milyar Rupiah milik rakyat miskin di Papua berhasil dikuras pencuri yang setiap saat mengaku peduli dengan rakyatnya.

Pencuri-pencuri itu tidak lain adalah para anggota DPRD, Bupati, Wakil Bupati, Sekretaris Daerah, Kontraktor dan orang-orang yang berada di lingkaran kekuasaan. Tidak ketinggalan pula anak-istri, kerabat dan kenalan mereka. Parahnya, dana-dana yang dikuras sebagian besar berasal dari pos-pos vital yang menjadi program prioritas sebagaimana diamanatkan UU Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua, yakni pendidikan, kesehatan, ekonomi kerakyatan dan infrastruktur.

Sekedar contoh, mengacu pada laporan BPK untuk Tahun Anggaran (TA) 2004 dan TA 2005, pengeluaran di luar penghasilan pimpinan dan anggota DPRD (dana operasional, kelancaran tugas dan uang sidang) yang jelas-jelas merugikan rakyat adalah sebesar Rp. 2,56 Milyar (Kab. Tolikara), Rp. 1,51 Milyar (Kab. Mappi), Rp. 1,50 Milyar (Kab. Boven Digoel), Rp. 4,56 Milyar (Kab. Nabire) dan Rp. 1,86 Milyar (Kab. Keerom).

Sampai dengan akhir TA 2005, laporan BPK tentang uang rakyat yang dicuri telah menembus angka Rp. 550, 13 Milyar. Angka yang abnormal ini merupakan kejahatan para anggota DPRD, Bupati, Wakil Bupati, Sekretaris Daerah, Kontraktor dan orang dekat plus anak-istri mereka di kabupaten-kabupaten yang telah disebutkan diatas dan beberapa kabupaten pemekaran dan kabupaten induk lainnya di Provinsi Papua.

Longgarnya pengawasan berbagai instansi terkait, lemahnya elemen penegak hukum, kebijakan “tebang pilih” yang menjadi ciri khas Rezim SBY-JK dalam pemberantasan korupsi di Indonesia dan gertak-sambal para koruptor bahwa mereka akan mendukung gerakan kemerdekaan Papua sekiranya mereka diseret ke Pengadilan turut menjadi pemicu suburnya praktek korupsi.

Memang, pemekaran kabupaten merupakan impian para koruptor di Papua. Tetapi, rakyat pribumi-lah yang selalu dimobilisasi untuk tujuan busuk mereka, tentu saja dengan mengedepankan berbagai isu yang bisa membuat rakyat pribumi tertipu dan memberikan dukungan secara membabibuta. Oleh karenanya, stigma bahwa “Bangsa Papua adalah bangsa yang diciptakan Tuhan khusus untuk ditipu, dicongar dan diadudomba”, mungkin bisa ada benarnya.***

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada 5 Desember 2008 in BERITA, SEPUTAR PAPUA

 

Tag: , ,

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.